Puisi Agus Wis di Suara Merdeka, 18 Juli 2021

 SETIAP KEMARAU KITA RINDUKAN HUJAN

.

Suatu yang tak terbayangkan telah terjadi. Hati yang saling mendengki, dendam, dan benci yang menginginkan bahaya menimpa pihak lain. Dan bukannya hati yang penuh kasih sayang berlimpah simpati.

Sayang sekali, kenyataan ini benar-benar terjadi dan kita temukan. Arti persaudaraan dengan hati bersih dari perasaan dengki terkadang hilang dari kita.

Sesungguhnyalah di dalam kehidupan yang penuh kesibukan ini, kita terkadang melupakan saudara kita. Sungguh ini sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.

Maka, mari bangkit bersama. Mulai melangkah selangkah demi selangkah, tuk tanamkan makna persaudaraan dalam hati kita. Dan tanyakan setiap saat, dengan apa kita isi hati ini? Bukankah setiap kemarau kan rindukan hujan tuk menyiraminya.

.

KAPAL LAYAR PUN MAMPU BERLABUH DI PADANG PASIR

.

Apakah keyakinan kita terhadap kekuasaan dan janji Allah masih saja lemah, ragu, dan kurang yakin?

Subhanallah..! Bahkan selembar daun kering pun Dia mengetahui di mana letak jatuhnya. Yakinlah seyakin Sang Musa berjalan di tengah laut.

Seyakin Sang Noah saat diperintahkan oleh Dia untuk membuat kapal di puncak gunung di tengah-tengah belantara padang pasir, tanpa bertanya apakah ini yang akan menyelamatkan kaumku?

Maka, jangan katakan bahwa kita tidak yakin adanya harapan perubahan. Itu janji Allah..! Maka mari bangkitlah tuk raih janji-Nya demi masyarakat yang damai makmur sentosa.

.

MEDAN PERTEMPURAN SESUNGGUHNYA

.

Sesungguhnyalah medan pertempuran kita adalah diri kita sendiri. Jika kita dapat mengalahkannya, maka kita akan lebih mampu dari yang lain. Pun sebaliknya, jika kita dikalahkan oleh jiwa kita sendiri, maka di hadapan mereka, kita akan lemah dan lemah.

Mari kita bergandeng tangan tuk berjanji bahwa kita akan mengubah keadaan agar kita menjadi lebih baik. Kita akan meneguhkan tekad dan sepakat akan melakukan perbaikan dan kewajiban kita terhadap masyarakat dengan segera.

Mari bangkitlah dan kumandangkan teriakkan slogan kita sekeras mungkin: Kita siap untuk melakukan perubahan, dengan segenap kesungguhan. Seperti kesungguhan Kanjeng Rosul mempertahankan agamanya.

.

JIWA NAN KEMILAU

.

Dalam kajian religi, semestinyalah kita harus senantiasa membersihkan jiwa kita dari berbagai penyakit, sehingga akan terlihat kemilau dan siap melahirkan amal perbuatan yang agung dan mulia.

Kemilau cahaya jiwa kita mestilah mampu menerangi kegelapan rumah dan lingkungan sekitar, syukur bisa menerangi gelapnya dunia hati segenap manusia.

Maka, tidak bisa tidak, jiwa harus all-out untuk tetap menjaga kesucian dengan menghindari godaan setan, jin, dan manusia.

.

BANGKITLAH UNTUK BAHU-MEMBAHU

.

Sungguh..! Kita tidak tahu apa yang menjadi penghalangnya. Bukankah masing-masing kita mendambakan kebahagiaan?

Jika Dia telah memberikan jaminan kebahagian di sini dan di sana, apalagi yang kita tunggu?

Sebenarnyalah kita juga sudah sangat sering mendengar hati yang berdegup kencang, yang menginginkan perubahan, namun masih sangat memerlukan dukungan untuk menuntunnya menuju pintu perbaikan.

Mari, kita bangkit bahu-membahu tuk mewujudkan masyarakat yang damai, hingga akhirnya membantu kita melupakan segenap kekacauan dan pandemi yang selama ini melingkupi kehidupan kita sehari-hari.

.

— Dr. Agus Wismanto yang lebih populer dengan nama Agus Wis adalah dosen PBSI UPGRIS. Masih anggota PWI sejak 1999 hingga sekarang. Juga Kominfo PGRI Jateng. Dia menyelesaikan pendidikan S3 di UNY dengan disertasi “Model Supercepat Menulis Berita”.

 


Puisi-puisi Rahem (Koran Tempo, 14 November 2021)


SURAT TERAKHIR IBRAHIM LAM NGA

.

“T’lah kupatahkan dada yang gemetar, Teuku

Dalam keberanian yang runcing

Sebelum tangan-tangan ini menyentuh Glee Taron”

.

Maka atas keberanian ini, di Krueng Raba

Pada pertempuran yang kita kepung

Van Der Heijden membawa kita tenggelam

Ke gua kematian

.

Di layar kematian kita

Tuhan menciptakan dunia baru

.

Kita melayang dengan mata terpejam

Aku pergi, aku pergi!

Dengan seluruh mimpi yang terbenam di langit perang

.

Madura, 2021

.

.

.

PADA MALAM SIERRA

.

Apakah kau tahu, Roseanne

Pada repetisi malam itu

.

“pada malam sierra

Amadeus menjagamu dari tikaman mimpi buruk

Sepanjang waktu, sepanjang mimpi”

.

Ia memelukmu di lanskap tua itu

Dengan soneta sedih

Dengan fantasi yang kau pelihara

Ke lembah malam

.

“Jangan mendekat, jangan mendekat,” ucapmu

.

kau seakan-akan lahir

Dari bangsa jin yang berkepala batu

.

Madura, 2021

.

.

.

Rahem kelahiran Sumenep, 20 April 1999. Ia aktif di Komunitas Anak Sastra Pesantren (Asap) dan menjadi pendamping Sanggar Sareyang Miftahul Ulum. Beberapa puisinya terbit di koran dan antologi bersama.

  

Cerpen Seno Gumira Ajidarma: Odong-odong (Kompas, 14 November 2021)

 

RATRI tidak pernah mengira betapa semuanya akan berakhir di Negeri Kegelapan.

Semua ini dimulai dengan keremangan, ketika odong-odong sudah kosong, dan tinggal dirinya sendiri yang belum diturunkan. Tukang odong-odong itu rupanya mengira semua anak sudah turun dengan pengasuh masing-masing, dan ia bisa segera melarikan odong-odongnya pulang.

Saat ia matikan lagu kanak-kanak dari kotak yang berisik itu, barulah ia tersadar bahwa ia tidak sendirian. Dalam remang, Ratri yang kecil memang tidak langsung kelihatan.

“Ah! Nèng! Kok belum turun?”

Pan belum nyampé…”

“Belum nyampé? Emang mesti turun di mana?”

“Depan rumah …”

“Iya, rumahnya di mana?”

“Tau’.”

Maka tahulah tukang odong-odong itu bahwa ia bisa mendapat masalah, dan karenanya ia segera memutar balik odong-odong yang terbuat dari sambungan sepeda motor dan bak mobil itu, melarikannya di sepanjang jalan yang telah dilalui.

“Di sini rumahnya?”

“Bukan.”

“Dari sini naiknya?”

“Bukan.”

“Dari mana dong?”

“Tau’.”

Pusinglah tukang odong-odong itu, ketika semakin malam jalanan itu semakin membingungkannya. Lampu kendaraan dan lampu toko-toko berkelap-kelip mengalihkan pengamatan, suara sepeda motor yang saringannya dicopot, toa masjid yang terdengar meminta sumbangan berbaur dengan toa obral baju di pasar kaget. Ini masih jalan yang sama tentunya, tetapi mengapa tiada lagi yang dikenalinya?

Ditengoknya anak perempuan itu, hanya melamun saja, seperti bukan masalah bahwa hari sudah gelap, dan ia belum sampai ke rumah.

“Ratri!”

Terdengar teriakan dari tepi jalan, dan di kaki lima yang sudah selalu simpang siur itu tampak sejumlah orang mondar-mandir dengan gelisah.

Tukang odong-odong itu tidak tahu jika anak ini bernama Ratri. Ia mendengar teriakan itu, tetapi ada banyak juga teriakan lain. Siapalah kiranya yang akan tahu pasti bahwa teriakan yang satu itu adalah teriakan kegelisahan, berbalut kemarahan yang mendadak meluap, karena odong-odong itu tidak berhenti?

 

“Kejar!”

Suara kaki-kaki bersandal jepit berlarian menyela suara mesin bajaj, lagu qasidah dari toko busana muslim, dan lagi-lagi raungan knalpot sepeda motor tanpa saringan. Dalam kemacetan di perempatan, odong-odong itu terkejar dan dua-tiga orang melompat masuk, ketika pengemudinya masih sempat bertanya, “Sebelah mana Nèng?”

Setelah itu terjadi kekacauan yang membuat kemacetan semakin parah, karena setelah pengemudi itu ditarik ke belakang, oleh tangan yang mencekal leher bajunya, odong-odong itu melaju ke tengah arus yang sedang saling bersilang. Sejumlah kendaraan tertabrak dan saling berbenturan. Sejumlah yang lain berbelok menepi tetapi tetap tak bisa pergi, ketika hal yang sama terjadi dari arah berlawanan.

Deretan panjang dari segala arah membunyikan klakson bersamaan, suaranya membubung ke langit, bagaikan doa salah alamat yang tidak akan pernah dikabulkan. Pusat kekacauan terdapat di tengah perempatan itu, seperti pusaran air bergejolak yang tidak pergi ke mana pun.

“Mau menculik ya? Bangsat!”

Saat seorang banpol muda tiba di perempatan itu, kemacetan belum juga terurai, tetapi tukang odong-odong itu terkapar di jalanan dengan wajah tanpa bentuk. Bapak tua penjaga kios rokok yang berusaha menolongnya, kesulitan menyeberangi jalan menuju ke kaki lima. Seragam banpol yang terus-menerus meniup peluit itu sedikit membantu penertiban. Namun setelah kemacetan teratasi, banpol itu merasa harus kembali kepada tugas sesuai peraturan.

“Ini kendaraan tidak jelas jenisnya, tidak ada nomor polisinya, kok berani berkeliaran sambil mengutip uang? Apa ada izinnya? Mana surat-suratnya?”

Tukang odong-odong yang pingsan itu tentu tidak mendengar, dan bapak tua penolongnya mendongak dengan mulut ternganga.

Odong-odong itu sendiri tidak terlalu rusak. Teronggok miring di atas selokan.

***

Dengan perasaan berbunga-bunga Ratri menaiki odong-odong pada suatu senja. Lagu-lagunya sungguh meriah, liriknya berkisah tentang kehidupan di dunia yang penuh dengan kebahagiaan bertamasya maupun kebahagiaan memiliki ayah ibu adik kakak. Odong-odong bagaikan datang dari surga, membagi-bagikan kebahagiaan sepanjang jalan bagi anak-anak yang kurang mengenal kebahagiaan itu, sehingga dengan mudah mendapatkan kebahagiaan maya melihat gambar-gambar di sisi odong-odong.

Gambar-gambar badut, makhluk mengenaskan itu, dan lagu-lagu riang. Amboi! Alangkah senangnya!

Ratri merasa dirinya melayang terbang. Bukankah lagu-lagunya berkisah dengan ceria tentang pelangi yang melengkung dari ujung ke ujung, mega jingga, langit ungu, bintang-gemintang, dan serba gemerlapnya semesta alam? Semua itu juga tergambar pada kedua sisi odong-odong, kendaraan yang seolah-olah akan membawa anak-anak ke surga, bersama badut-badut yang akan selalu membuat mereka tertawa.

Anak-anak dalam gendongan pengasuhnya, dibuntal kain yang mengikat ketat, kepalanya terbenam begitu dalam, apakah yang bisa dilihatnya selain ketiak dan atap odong-odong? Namun Ratri sudah tidak melihat anak-anak dengan mata kosong itu, entah kapan dan entah di mana mereka turun. Tinggal dirinya kini tinggi di awan, bebas dari kampung kumuh, rumah sumpek, celoteh nyinyir, senyum palsu, bau apak maupun wewangian tiruan yang mengecoh sebentar sebelum memudar.

Ratri menengok ke bawah, bahkan sepasang ondel-ondel yang bergerak-gerak itu pun tampak begitu kecil sekarang. Hatinya terasa ringan karena keriangan yang terasa meyakinkan seperti dirinya benar-benar berbahagia.

Ia sempat melihat kampungnya. Melihat ibunya berjalan keluar dari balik pintu tripleks menuju ke ujung gang, tempat banyak orang menunjuk-nunjuk ke atas. Ke arahnya!

Apakah ibunya itu sedang mencari dirinya dan akan menyuruhnya pulang?

“Jangan pernah naik odong-odong lagi ya Ratri! Awas kamu! Apakah kamu mau jadi anak tukang odong-odong?! Coba kalau waktu itu tidak ada yang lihat, tidak tahu sudah ada di mana kamu sekarang!”

Mesti ada di manakah dirinya? Ratri merasa dirinya berada di tempat yang paling diinginkannya, duduk di bangku dengan dagu berbantalkan punggung tangan di sisi odong-odong, menyaksikan lapisan-lapisan langit yang ditembus tanpa suara, selain gema lagu kanak-kanak yang kini membahana dalam pengertian sesungguhnya.

“Turun di mana Nèng?”

Didengarnya tukang odong-odong itu bertanya dengan suara terpendam. Ratri menoleh. Perban membalut seluruh kepala tukang odong-odong itu, dengan lubang hanya pada mata dan hidungnya.

***

Ratri memang tidak pernah mengira betapa semuanya akan berakhir di Negeri Kegelapan, meski bagi anak itu tidak penting benar ia berada di mana, asal selalu berada di dalam odong-odong, menembus dunia-dunia yang tidak pernah dikenalnya.

Juga tidak penting benar baginya, ketika nun jauh di Bumi seorang perempuan berkutang yang lepas kancing atasnya, berlari sambil menjinjing kain dan berteriak ke langit.

“Ratriiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!” ***

.

.

Poliklinik Madya RSCM—Pondok Ranji, September/Oktober 2021.

Seno Gumira Ajidarma dilahirkan tahun 1958. Bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1977, kini tergabung dengan panajournal.com. Menulis fiksi maupun nonfiksi, dalam media massa maupun jurnal ilmiah; mendapat sejumlah penghargaan sastra, mengajar di berbagai perguruan tinggi. Buku yang belakangan terbit: Ngobrolin Komik (catatan tentang komik dalam 25 tahun terakhir), komik Macan (bersama Thomdean), komik Percakapan di Ruang Tunggu (bersama Sheila Rooswitha Putri), komik Layang-Layang (bersama Gerdi WK), dan roman Para Pelacur dalam Perahu. Masih menyambung cerita silat Nagabumi.



Puisi Royyan Julian, Jawa Pos, 7 November 2021



Sayyid Ahmad Baidawi


 “Gusti, kumakamkan keabadian

yang telah mati di lembah ini.”

Syahadat kami kan tumbuh

menjadi biji-biji yang berikrar

kepada pagi:

’’Kami bersaksi tiada Tuhan

selain Yang Tak Diketahui.”

Gerimis gemetar di bibir kemarau

sementara arwah kekekalan

mencari detak jantung-Mu

di kubur paling kapur.

Tandur, tandur, tandur…

Dan lembu-lembu kami

meminang delapan juta enam ratus

empat puluh ribu denyut waktu

sebelum benih itu tanak

di dada kami yang kian retak.

2021

Bahtera Nabi Nuh: Jeffrey Mellefont

Guruh dan gelombang itu mengapung

di langit-langit museum

dan menghantam lambung bahtera

yang tergantung.

’’Bayang perahu ini adalah relikui keabadian

yang pernah ditepis Gilgamesh di tepi Tigris.’’

Di lima ribu kilometer

ke utara dari museum itu

zuriah sang nakhoda

membangkitkan mayat pohon gofir

yang terbaring di perut Ararat.

’’Mari kita taklukkan dimensi kematian.”

Tetapi yang terjaga adalah dingin nan kekal

ketika anak-cucu mereka

bertilam ombak dan berselubung sakal

di laut yang tak bisa dijinakkan

oleh busur perjanjian.

2021

Tarekat Nabi Khidir

Di hadirat sang mursyid

ia didekap baka yang fana.

’’Keabadian hanya mungkin

ketika dikau tak lagi

disentuh hayat dan maut.’’

Suara itu membujur

dari waktu yang bersirip karat

dan ruang yang menjadi amis.

Tetapi kekal adalah sepatah kata

yang pejal dan tak berperasaan.

’’Dan karena itulah

Tuhan terperangkap

dalam kesepian

yang panjang.”

2021

ROYYAN JULIANPenulis dan pembaca buku

Puisi Iin Farliani di Jawa Pos, 13 November 2021



Langit Petang Pinggir Dermaga

langit petang
hilang sinar
yang berhambur tinggal
kicau burung di belakang
kibasan kain milikmu
berwarna jingga
milikmu bernoda gincu
menerbangkan kepak yang diam
di matamu ia telah dijarah
kesedihan sewarna darah
apa yang diturunkan
dari warna langit yang luruh
menebalkan biru laut itu
meninggalkan untukmu kubangan buih ombak
tempat membasuh kabar buruk
yang datang bersama pahit ludah
dan dingin alkohol
tubuh tersadap
berbaring di atas pasir
keretak kayu dermaga
akan menggantikan bunyi tangis
menetaskan ribuan kali lebam
melepuh dengan hasrat para
pemakan bangkai
Sekotong, 2021

Memburu Kerang

daratan terbuka

sesudah laut susut

menghampar cahaya amber

menumpah

mencium

rundukan lamun

berbalut lumpur hitam

perempuan bercaping pandan

jari-jari kaki menghindari

duri-duri karang

mata sabit

mencongkel batu

menguak kerang

dari celah cagar

menikam

sewarna kuku

terpantul di jernih air

bunyi soda memukul

di kejauhan

denting es

menyala semalaman

hanya meraup apa yang mengibas

apa yang menembus ke dalam tanah

di separuh petang dalamnya

di rekahan daratan yang menjelma punggung

bagi hewan-hewan air

akhirnya, meramu makan malam

akhirnya bergelayut hari gugur

terpencil di atas loyang

mengasapkan

aroma kerang

Sekotong, 2021


Puzzle Pemandangan

dari balik kacamata

menemukanmu menjadi daun-daun lepas

segerak angin, bertepi ungu

dengan hasrat mendirikan

catatan dari bau tempat

setua air garam

kursi reyot, debu panas

warna biru dari filter buatan

biru yang beku di lautan

biru yang luruh pada saku jins

menebak umur dari lubang jaring

anak mutiara yang terkurung dalam poket

harum musk

kerajaan runtuh di kaki

tapak terbasuh getah

dan pemandangan merabun

mengemasi diri yang lumpuh

hukuman bagi sebuah sepi

Sekotong, 2021

IIN FARLIANI

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mataram. Menulis puisi, esai, dan cerita pendek. Pada 2020, ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writers MIWF 2020. Dalam waktu dekat, akan terbit buku puisi tunggalnya yang merangkum puisi periode 2013–2020.

Sajak-sajak Putu Fajar Arcana (Nusa Bali, 14 November 2021)

Matrioskha 

Dalam cuaca dingin di lapangan Kremlin,
Matrioskha menggigil. Lipatan-lipatan syal warna merah
yang melilit di lehernya seperti kaku. 

Inilah saatnya menyimpan anak-cucu sampai tujuh turunan
dalam kantung yang telah diwariskan berabad-abad.
Masa-masa di mana para Tsar kepincut Paris dan kemudian
membuat replika, membangun St Petersburg. 

Ini kota yang nyaman bagi para pelancong
Tetapi dingin bisa bikin beku dongeng
dalam gereja-gereja tua milik kaum Ortodoks. 

Seorang pemabuk di tepi sungai mengoceh
tentang turunan Rusia yang kini kacau oleh mesin Barat. 

“Matrioskha pasti kecewa menyaksikan kenyataan kini.
Rusia sungguh-sungguh mengecewakan dan aku
tidak perlu mabuk menunjuk kebobrokannya,” katanya.
Tubuhnya terhuyung dan tersungkur di trotoar di tepi sungai.
Ia menjulurkan tangannya pada sebuah tiang lampu,
sehingga tidak terjerembab ke dalam air yang deras. 

Matrioskha, memang hanya boneka kayu,
tetapi menyimpan rahasia anak-anak dalam perutnya

Dan itulah cara kaum sosialis
mengajarkan pentingnya menjaga komunisme!


Venezia, 1 

Dingin, dingin, dingin, katamu. Sore memang sedikit nakal. Ia bawakan aku segumpal awan, yang mengaduk gerimis jadi sebasah rambutmu Ahai, San Marco menggigil dalam cuaca musim panas yang berhujan Tapi coba kita menepi, siapa tahu ada selembar puisi yang tertinggal dalam hangat kafe di tepi Canal de Grande Cepat, cepat, cepat, katamu. Sore telah benar-benar tiada ditelan deras arus Kau tetap nyalakan mesin, dan perahu berlalu ke tepi-tepi malam yang basah oleh matamu


Vodka 

 Aku tahu sekarang mengapa Vlado, gelandangan yang aku temukan di Moskaw, selalu tersungkur di trotoar dengan sebotol vodka. Alkohol tak hanya membuatnya melupakan dirinya sebagai tunawisma, tetapi membantu melindungi tubuhnya dari sergapan cuaca bergerimis dengan suhu 9 derajat. Moskaw jadi bagai surga buatnya. Ia bisa tidur sekehendak hati, bahkan di sudut-sudut paling kumuh kota itu. Vlado tidak pernah merasa dibekap ketakutan lalu menyusup ke kamar berpenghangat. Ia merasa perlu menikmati privilese sebagaimana kini diumbar warga Moskaw. “Aku selalu percaya Tuhan itu Maha Pemurah!” katanya pagi itu. Cuaca Moskaw sedang anjlok ke titik 6 derajat. Matahari pun tak keras kepala untuk melawan kehendak langit. Sisa-sisa sosialisme seperti melekat pada mantel kucel dan topi bulu domba yang dikenakan Vlado. Dulu, katanya seolah mengigau, ia pernah bertempur di medan Afganistan untuk menegakkan Soviet yang sampai kini ia sunggi di kepalanya. Tetapi harapannya seolah dihancurkan dan dilindas kendaraan-kendaraan mewah kaum borjuis yang kini memadati jalan-jalan Moskaw. Moskaw boleh bergerak menjadi megapolitan paling ruwet, tetapi Vlado menyederhanakan segalanya dengan sebotol vodka. Sosialisme, pikirnya, sejatinya larut dalam kebersamaan sebotol vodka. Ini mirip plesetan paling populer di dunia hiburan, vodka connecting people! --Alkohol telah mempersatukan kembali kaum proletar untuk mengais sisa peradaban. Vlado percaya jalan alkohol akan mengantarkannya menuju cita-cita sosialisme: bersatu dalam kemiskinan! Vodka vodka vodka, kami mabuk bersama sepanjang pagi di jalan-jalan Moskaw… Kami tak mau bercerai karena kesombongan borjuasi!


Arsenale 

Kau benar-benar tak hadir saat pesta terlanjur dimulai. Di halaman yang sempit di sela tembok-tembok tua, bahkan di lorong itu, kita sempat berbincang tentang sejarah yang membeku dalam tali-temali. Sementara di kafe Sebagian kita masih menunggu hari yang berpusar di sekitar gambar-gambar kontemporer. Siang tak begitu panas saat kau rebah di tepi Canal de Grande serupa tarian camar angin memukul-mukul tepian. Dan tak ada yang menawarkan cinta. Cuma sederet gondola saling bentur. Muara di ruang ini sesak oleh artefak. Ada yang sedang terisak Lalu memecah botol-botol Menu yang sehat hari ini Tembakan video di tembok tua Seorang perempuan melahirkan Mungkin ia mengandung Rahasia seni hari ini.

Leluhur Menyantap Misoa 

Tangan-tangan leluhur yang menjulur seperti misoa, sulur-sulurnya melingkar membentuk garis nasibmu. Dalam bulatan telur berwarna merah ada pesan rahasia tentang asal-muasal Garis putih itu berlapis, tanpa putus, melingkar sebelum sampai ke inti waktu. Dan waktulah yang membuat kau dan aku kini terpisah ruang. Dalam lembaran surat-surat usang Konon kau bersemayam di atas altar Meluluh dalam butiran abu. Berabad-abad lalu seorang raja tua membangunkanmu, tepat pada akhir musim dingin. Sejak itu kita bercakap tentang usia yang datar Selalu terguncang di jalan berbatu dan terbatuk-batuk di peralihan waktu. Bahkan bisa putus sebelum tiba di pintu nirwana. Konon pula kaulah penghuni terakhir pada bulatan telur. Warna kuning itu pertanda kesukacitaan Kerelaan berkorban, memberi harapan dan janji kebahagiaan bagi anak cucu. Di depan altar ini doa-doa mengalir Dalam tarian asap hio kita bersama saling menyantap usia. Semangkuk misoa mungkin bisa memperpanjang kisah-kisah nenek moyang. Tangan-tangan leluhur yang menjulur seperti misoa, sulur-sulurnya melingkar sebagaimana karma selalu mempertemukan kita di sini atau pada dimensi hidup kita nanti


Profil Penyair

PUTU Fajar Arcana lahir di Negara, Jembrana. Dia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Menulis beberapa buku, di antaranya: kumpulan cerpen Bunga Jepun (2002), Samsara (2005), Drupadi (2016). Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi Bilik Cahaya (1997), Manusia Gilimanuk (2012), dan Budak Naga (2020). Novelnya Gandamayu (2012) yang berangkat dari kisah Sudamala, dipentaskan oleh Teater Garasi. Pernah diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam perhelatan Mimbar Penyair Abad XXI tahun 2000. 

Selain menulis puisi, Fajar Arcana juga menulis monolog, cerpen, dan esai. Rutin menulis kolom kebudayaan dalam rubrik esai yang diberi nama ‘ePILOG’. Kolom yang diterbitkan setiap hari Rabu secara online di Kompas.id itu sebagian telah dibukukan dalam ePILOG, Esai Kebudayaan Kompas (2020). Sebagai jurnalis, dia telah meliput peristiwa-peristiwa besar, seperti Venice Biennale, Art Basel Hong Kong, Cannes Film Festival, dan Tokyo Film Festival. Bersama rombongan kesenian Indonesia melakukan perjalanan kebudayaan ke Iwate (Jepang), Paris (Prancis), Athena (Yunani), dan Moskow (Rusia). Pada tahun 2021, dia memperoleh anugerah Bali Jani Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali.

Kirimkan Karyamu ke Redaksi NusaBali

Redaksi NusaBali menerima kiriman naskah puisi dari masyarakat, untuk dipublikasikan setelah melalui proses seleksi. Naskah puisi bisa dikirimkan langsung ke Kantor Redaksi Harian Umum NusaBali, Jalan Hayam Wuruk 110 Denpasar, atau melalui email hariannusa@yahoo.com. Sertakan foto penulis puisi (penyair) dan CV ringkas penyair. 



Bagi Minak Jinggo, Cinta Adalah Pertempuran (Radar Banyuwangi, 13 November 2021)

Sebelum pertempuran terjadi, benih-benih asmara mulai tumbuh dan menjalar ke dada Jaka Umbaran yang diam-diam menaruh hasrat kepada Dyah Ayu Kencana Wungu. Siapa yang tidak terpincut akan kejelitaan parasnya? Dapat kita duga dari sayembara yang diadakannya untuk menghabisi si sakti Kebo Marcuet di Blambangan.

Meratapi para pemuda yang dengan mudah dikalahkan oleh Kebo Marcuet, Jaka Umbaran mulai bersiasat serta menimbang. Dapatkan ia bersama pusaka gada wesi kuningnya menghabisi murid dari kakeknya? Ia pun jadi semakin yakin dapat memenangkannya. Karena, ”tidak akan mampu siapa pun yang dapat mengalahkanmu bersama gada wesi kuning itu”. Petuah itulah yang terus diyakini Jaka Umbaran menuju kediaman Kebo Marcuet, kemudian menantangnya duel dalam sayembara. 

Pertempuran pun terjadi dengan dahsyat seolah tak ada yang mengira bahwa pertarungan bakal berlangsung lebih lama dari biasanya. Kebo Marcuet mulai kelabakan menghadapi seorang petarung yang sama kuatnya. Hingga pada puncak tetes darah mengalir, akhirnya Jaka Umbaran memenangkan pertarungan tersebut. Ia pun disambut dengan gembira oleh para penduduk Blambangan, sampai-sampai ia digelari Minak Jinggo yang gagah perkasa. Namun sial baginya. Pertempuran dengan Kebo Marcuet membuat fisiknya tak lagi seperti dulu. Rupanya jadi tak terkata, serta pada badannya seperti lelaki tua yang membungkuk. 

”Bukankah cinta adalah pertempuran? Dan fisik hanyalah sebatas pengecualian? Saya yakin Dyah Ayu akan menerima kemenanganku.” 

Ia kembali menuju Keraton Majapahit. Dalam perjalanan, bayang-bayang Dyah Ayu memenuhi alam khayalnya. Selain bakal menerima persembahan menjadi Adipati Blambangan, ia bakal menjadi suami dari ratu Majapahit yang sangat ia damba. Begitulah harapan seorang pendamba, seakan khayalan dan kenyataan sama hasilnya. 

Di hadapan Dyah Ayu Kencana Wungu, ia memamerkan gelar barunya, Minak Jinggo. Sembari malu-mau, ia pun mulai berterus terang dan menagih hadiahnya. Siapa yang sangka? Kenyataan memang tak sesuai dengan khayalannya. Dyah Ayu menjadi kecewa dengan hasil kemenangannya. Bukan karena kurang perkasa, lain hal ialah karena penampilan. Baginya, Jaka Umbaran atau yang kini dikenal dengan Minak Jinggo tak lagi setampan dulu. Maka Dyah Ayu hanya mempersembahkan padanya Adipati Blambangan dan pengecualian, suami. 

Minak Jinggo pulang dengan penyesalan mendalam. 

”Bukankah cinta adalah pertempuran? Saya tak akan menyerah semudah ini. Saya akan kembali. Sebab, cinta adalah pertempuran!” 

Di sisa-sisa perjalan Minak Jinggo menambahkan. Ia akan memberontak! 

*** 

Hari berlalu dan berlalu. Tiba waktunya api yang membara di dada semakin berkobar dan terus menjalari sel-sel di tubuhnya hingga memuncak di kepalanya. Pengkhianatan musti mendapat balasan, sekalipun ia seorang ratu. Perjalanan yang panjang pun ditempuh. Bersama ratusan prajuritnya ia siap memberontak ratu dan Majapahit.

Semilir angin yang sepoi dan kadang bergemuruh pada siang hari menerpa wajah Dyah Ayu yang berjalan di taman istana. Ada aroma yang lain, dan tentunya menimbulkan perasaan yang getir. Ia bertanya-tanya sendiri sembari memandang langit. Gumpalan awan tampak seolah hidup dan terus bergerak dari timur menuju barat. Lamat-lamat gumpalan awan berubah bentuk yang kadang besar dan mengecil. Beberapa dayang yang menemani ratu memilih diam, pun menjawab sekiranya tak membebaninya. 

Perasaan Ratu Dyah Ayu memang tak dapat dibohongi. Tampak jelas dari raut wajahnya terlihat cemas. Dengan gegas, Dyah Ayu menuju istana memanggil Gajah Manguri yang diperintahkan untuk terus waspada, khawatirnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan. 

”Ampun, Ratu. Ada masalah sederhana di perbatasan Tapal Kuda Timur. Minak Jinggo yang tak lain adalah Jaka Umbaran memberi pemberontakan kecil. Ratu jangan khawatir. Para prajurit mampu mengatasi Minak Jinggo bersama pasukannya. Kabar yang hamba dapati, mereka sudah berbalik dan meninggalkan gulungan ini,” ujar Gajah Manguri. 

Dia menghantarkan gulungan surat dari Minak Jinggo kepada Dyah Ayu. Dyah Ayu tampak bergidik menerimanya. Timbul dugaan-dugaan yang membuat perasaannya mulai kembali tak nyaman. 

Setelah mendengar langsung isi gulungan yang dibacakan, Ratu Dyah Ayu Kencana Wungu kembali mengadakan sayembara, persis sekali dengan sayembara yang diadakan sebelumnya. Hadiah serta imbalannya juga sama. Sementara di lain tempat, Minak Jinggo kembali berkhayal di kedaton Blambangan. 

”Cinta adalah pertempuran, Dyah Ayu. Saya telah mempersembahkannya. Tidakkah Anda dapat menerimanya?” 

Sampai malam tiba dan berlalu bersama anganangan, lalu pagi datang kembali mencipta khayalan. Tak ada balasan surat dari Dyah Ayu, malah yang datang para petarung menantangnya berduel hidup atau mati. 

”Dyah Ayu, bila cinta memang menghadirkan pertempuran. Saya akan menghabisinya dan menghabisinya untukmu.” 

Sejumlah petarung yang datang di kediaman Minak Jinggo berhasil dengan mudah dikalahkan. Bukan hanya babak belur, ada yang habis dan mati. Semua petarung yang datang bukanlah tandingannya. Ia seorang perkasa dengan pusaka gada wesi kuningnya. 

”Dyah Ayu, tidakkah Anda mendengar keperkasaanku? Sayembara yang kembali Anda adakan hanyalah sia-sia! Cinta adalah pertempuran. Saya akan menghabisinya untukmu.” 

Minak Jinggo semakin terbawa ke alam khayalannya. Tidak ia tahu bahwa Ratu Dyah Ayu Kencana Wungu berniat meniadakannya. Bukan hanya dalam hatinya, melebihi di dunia yang fana. Sayembara yang terus berlangsung berhari-hari itu tak jua menemukan hasil yang lega bagi Dyah Ayu. Semua petarung yang mengikuti sayembara dihabisi dengan mudahnya oleh Minak Jinggo. 

Sampai suatu waktu, seorang lelaki dalam istana menghadap kepada Dyah Ayu dan memohon izin untuk mengikuti sayembara tersebut. Dyah Ayu mengizinkan dan melepasnya pergi ke Blambangan menuju Minak Jinggo. Dia adalah Damarwulan, seorang kusir kuda istana yang akan menumpas keperkasaan Minak Jinggo, serta anganangannya tentang cinta yang katanya adalah pertempuran. (*) 

Kalibuntu, 7 Oktober 2021

Emroni Sianturi. Lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 06 Desember 1995. Bergiat di komunitas kamianakpantai.com. Sejumlah karya puisi, cerpen, dan esainya dimuat di berbagai media cetak maupun online, juga pernah diterbitkan dalam buku antologi bersama.

Cara Pengiriman ke Radar Banyuwangi

Jawa Pos Radar Banyuwangi menerima kiriman cerpen dengan panjang naskah maksimal 1.300 kata. Juga puisi dengan jumlah karya minimal tiga. Naskah diketik dalam MS Word, Times New Roman 12. Pengirim cerpen dan puisi harap menyertakan biodata singkat, foto terbaru, dan kartu identitas pada naskah cerpen/ puisi. Naskah dikirim via file attachment (lampiran) dengan subjek email NAMA PENULIS_CERPEN/PUISI_JUDUL KARYA ke alamat email budayaradarbwi@gmail. com. Pemuatan karya sepenuhnya menjadi hak redaktur.

Puisi Agus Wis di Suara Merdeka, 18 Juli 2021

  SETIAP KEMARAU KITA RINDUKAN HUJAN . Suatu yang tak terbayangkan telah terjadi. Hati yang saling mendengki, dendam, dan benci yang men...