JOHAN KONCONEGORO | Cerpen Jimmy Anggara (Kompas, 23 Januari 2022)

 

JOHAN Konconegoro mempunyai postur tubuh yang tinggi, bahkan teramat tinggi untuk ukuran orang Asia. Setiap melewati sebuah pintu ia menundukkan sedikit kepalanya sehingga ia akan tampak seperti membungkuk. Dan memang begitu pulalah caranya berjalan, selalu membungkukkan badannya sedikit. Orang yang baru pertama kali melihat Johan Konco—begitu ia biasa dipanggil—melewati sebuah pintu tak akan menyangka kalau Johan Konco akan tetap menunduk selewatnya ia dari pintu itu.



Caranya berdiri pun sama. Dalam setiap fotonya Johan Konco terlihat selalu membungkukkan badannya seolah kalau tidak begitu sang fotografer tidak akan memotret kepalanya. Ia selalu berusaha menyamakan tinggi badannya dengan tinggi badan teman di sebelahnya. Sehingga dalam setiap fotonya hampir dipastikan Johan Konco mempunyai lutut yang bengkok dan punggung yang bungkuk.

Semasa di sekolah menengah atas ia tidak seperti itu. Ia memperoleh kebiasaan itu baru-baru ini saja. Dulu ia berdiri dan berjalan dengan biasa meskipun tingginya jauh melebihi tinggi teman-teman sekolahnya. Ia bangga dengan tinggi badannya itu sebab ia bisa masuk tim basket dan bahkan menjadi maskot mereka selama dua tahun. Kalau ada orang mencarinya gampang saja menunjukkan. “Yang mana Johan Konco?” “Pokoknya dia anak pejabat tinggi di daerah ini.” Dan ketika mereka berkata, “Kamu pasti Johan Konco, ya?” dan Johan Konco akan menjawab dengan ceria, “Ya, benar itu saya.” Tinggi badannya itu menjadikan Johan Konco mudah dikenali siapa pun.

Namun sekarang di tempat kerjanya yang baru di Jakarta tinggi badannya itu tidak lagi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ayahnya yang adalah pejabat negara di daerahnya merupakan orang terpandang dan ia memasukkan Johan Konco di tempat kerjanya yang baru itu. Ayahnya ingin Johan Konco menjadi seperti dirinya, menjadi pejabat negara yang terpandang. Tapi pertama-tama, Johan Konco harus mau hidup susah dulu. “Kalau mau sukses, kau harus tahan menderita, Johan, seperti ayahmu ini, yang merintis dari bawah,” kata ayahnya suatu kali. Kamar kosnya di Jakarta bukanlah kamar yang terlalu luas dan mahal meskipun nyaman dan Johan Konco menyukainya.

Setiap pagi Johan Konco naik angkutan umum ke kantornya. Dan di sana karena tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukan ia dan teman-temannya duduk di kantin dan mengobrol-ngobrol. Teman-teman kantornya menyukainya. Mereka menyukainya karena Johan Konco mempunyai selera humor yang lumayan bagus.

Suatu kali, di kantin, ia menceritakan sebuah lelucon yang pernah ia baca di buku Mati Ketawa Cara Rusia dan teman-temannya tertawa. Kali lain ia bercerita mengenai seekor gajah putih dari Siam yang bernama Hassan Ben Ali Ben Selim Abdallah Mohammed Moise Alhammal Jamsetjejeebhoy Dhuleep Sultan Ebu Bhudpoor yang nama panggilannya adalah Jumbo. Hasan, salah seorang teman kantornya menepuk pundak Johan Konco sambil tertawa puas. “Ah-ha-ha-ha! Bagus sekali, Johan. Panjang sekali nama gajah itu. Pasti dia gajah ningrat ya, ha-ha-ha! Gajah terkutuk!”

Selepas kantor Johan Konco pulang ke kamarnya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang disukainya. Seperti menulis surat pada ayahnya atau membuat kliping. Johan Konco memang berlangganan koran dan majalah. Koran-koran dan majalah-majalah itu ia simpan di bawah mejanya dengan pikiran bahwa suatu saat ia akan membuat kliping yang bagus.

Ia tertarik dengan berita-berita mengenai dunia flora dan fauna dan juga olah raga. Sewaktu di sekolah menengah atas di kotanya ia menyukai pelajaran biologi. Ia berharap kelak bakal menjadi ahli taksonomi sebab ia mengidolakan Carolus Linnaeus. Tapi mimpi itu tidak kesampaian karena ayahnya menyarankannya untuk mengikuti jejaknya yaitu menjadi pengabdi masyarakat. Johan Konco terpaksa harus mengubur cita-citanya tersebut. Lagipula ayahnya mengatakan, “Menjadi ahli botani itu tidak ada uangnya. Kamu mau anakmu makan tanaman?”

Jadi selepas kuliah dari jurusan biologi di sebuah universitas ternama di kotanya Johan Konco mengikuti saran ayahnya. Berkat koneksi yang dimiliki ayahnya Johan Konco berhasil ditempatkan di kantornya yang baru di Jakarta di sebuah departemen pemerintah. Meskipun begitu, minatnya pada tumbuhan dan binatang tetap tidak merosot. Setiap pulang kantor ia selalu menengok ke kolong mejanya. Seperti memutuskan apakah pekerjaan membuat kliping itu akan ia lakukan sekarang atau tidak. Tapi karena badannya terlalu capek akhirnya pekerjaan itu tertunda terus.

Hingga suatu kali ia melihat ayahnya di televisi. Setelah menyimak beberapa saat baru ia tahu bahwa ayahnya telah menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi bersama lima pejabat daerah lainnya. Mereka diduga menggelapkan uang dana pengadaan mobil pemadam kebakaran. Teman-teman kantornya yang juga menonton berita itu berkata, “Hei, Johan, wajahnya mirip sekali dengan wajahmu!” Bermacam alasan tidak mungkin lagi ia kemukakan. Lagipula mereka langsung segera tahu bahwa Johan Konco dan wajah dalam tabung televisi itu ada hubungan darah karena mereka mempunyai nama belakang yang sama. Sejak saat itu berangkat ke kantor di pagi hari bagi Johan Konco menjadi sama beratnya seperti mengangkat keranjang pakaian kotor yang berisi seekor gajah.

Malam harinya ia tak dapat tidur. Kasus dugaan korupsi ayahnya telah menjadi berita besar di kantornya. Semalaman ia bergulingan di tempat tidurnya dan baru bisa terlelap menjelang subuh. Akibatnya, esok paginya ia harus bangun dalam keadaan mengantuk. Setelah berpakaian dan sebelum berangkat, Johan Konco menyempatkan diri menulis surat untuk keluarganya. Suratnya itu tidak panjang. Ia menanyakan mengenai kabar keluarga terutama ayahnya. Kemudian di akhir surat ia menulis betapa berangkat ke kantor hari itu ia merasa berat seperti, “mengangkat keranjang pakaian kotor yang berisi seekor gajah. Salam sayang, Johan Konconegoro.”

Sepulang kantor hari itu Johan Konco menengok ke kolong mejanya. Kemudian menyalakan komputernya dan bermain Solitaire. Selesai bermain Solitaire ia membaca koran hari itu. Tertulis jelas di halaman pertama dalam huruf-huruf besar nama ayahnya. Ayahnya dan korupsi. Dengan sebal Johan Konco melempar koran itu dan melanjutkan bermain Solitaire.

Meskipun begitu ia terus mengikuti perkembangan berita mengenai ayahnya. Ayahnya bahkan menyempatkan diri menulis surat padanya, mengatakan bahwa Johan Konconegoro, ananda tersayang, harus percaya pada ayahnya sebagai orang yang jujur, dan harus mendukung ayahnya apa pun yang terjadi. Surat itu terasa bagi Johan Konco seperti surat pembelaan diri di depan hakim. Johan Konco menempelkan surat itu di tembok kamarnya.

Dua minggu kemudian Hasan mengatakan padanya kalau ia mempunyai sebuah cerita humor yang lumayan bagus. “Ceritanya mengenai buang hajat,” kata Hasan sambil tersenyum. “Maksudku, mengenai hajat hidup orang banyak. Kau mau mendengar, Johan? Hei, Johan! Mau ke mana kau? Ini tentang hajat hidup orang banyak!”

Kini, setiap kali pulang dari kantornya Johan Konco tidak lagi masuk ke kamarnya, melainkan pergi ke sebuah rental playstation dan bermain di sana. Ia akan bermain playstation hingga pukul sepuluh malam lalu pulang.

Kembali ke kamarnya, ia berhadapan dengan surat ayahnya yang ia tempelkan di tembok. Ia merasa muak. Memang kasus korupsi ayahnya masih berupa dugaan, dan ayahnya amat menekankan hal itu dalam suratnya. “Biarlah hakim yang memutuskan, apakah ayah bersalah atau tidak,” kata ayahnya dalam surat. “Tapi ayah benar-benar korupsi atau tidak?” Johan Konco bermaksud untuk mengatakan hal itu, tapi tidak ia lakukan karena takut menyakiti hati ayahnya.

Setelah lewat sebulan, barulah ayah Johan Konco ditetapkan sebagai terdakwa. Johan Konco menendang tembok kamarnya. Kemudian menangkap seekor cicak yang kebetulan sedang merayap, mematahkan kakinya satu per satu. Di sinilah dimulai kebiasaan Johan Konco yang baru. Ia jadi suka menyiksa binatang. Setiap kali mematahkan kaki cicak yang hidup itu ia menggumamkan kata-kata, “berhenti berbuat dosa, berhenti berbuat dosa.” Tapi ia terus melakukannya. 

Terbiasa dengan dosa-dosa kecil membuatnya berani melakukan hal-hal yang lebih besar. Seminggu kemudian Johan Konco membeli seekor burung hantu. “Kau kuberi nama Burhan,” katanya pada burung bermata lebar itu. Burhan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya yang kuning. Johan Konco kemudian mulai pergi setiap malam menembaki tikus got dengan senapan angin. Ia memberi makan Burhan tikus got. Namun, sial, Burhan tidak tertarik.

“Kenapa kau tidak mau makan?! Makan!” Johan mencekoki Burhan sampai burung itu ketakutan. Bulu-bulunya beterbangan. Malang bagi Burhan, Johan tetap bersikeras kalau makanan Burhan adalah tikus got. Jadi Johan terus mencekokinya sampai akhirnya Burhan lepas dari sangkarnya. Johan mengokang senapannya dan menembak Burhan yang sedang bertengger di jendela. Ia mengikat bangkai Burhan dengan balon-balon udara lantas menerbangkannya ke angkasa. “Aku pasti sudah gila,” pikir Johan Konco.

Malam itu juga pukul sembilan Johan Konco menengok ke kolong mejanya. Ia mengeluarkan bundelan koran dan majalah, duduk di lantai dan mulai membuat kliping. Ia menggunting kepala surat kabar, foto kepala ayahnya, artikel dan foto tanaman dan binatang. Lantai kamarnya malam itu bertebaran dengan potongan-potongan koran dan majalah. Hasil kliping tulisan itu berbunyi seperti ini:

Seorang tumbuhan melahap seekor binatang langka juara basket menyemai bibit unggul tanpa dugaan tinggi melarang mobil pemadam kebakaran spektakuler agrobisnis berkecimpung dalam dunia olah raga nasional sportif mengecewakan setelah dibekuk 1-0 dalam kerangkeng binatang pemakan sesama yang menggemparkan publik sementara hajat hidup orang banyak.

Keesokan paginya Johan Konco bangun dengan mata masih mengantuk. Saat ia memasuki pintu kantornya pagi itu, ia berjalan dengan menundukkan kepalanya dan tetap begitu bahkan setelah ia duduk di meja kerjanya. Sejak saat itu Johan Konco selalu berjalan seperti itu—apakah memasuki pintu yang terlalu rendah bagi kepalanya ataupun pintu gerbang. ***

.

.

Jimmy Anggara bekerja sebagai penerjemah lepas. Tinggal di Jakarta. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di detik.com, di majalah Majas dan di koran Media Indonesia.

Anton Susanto lahir di Bandung 1979. Pendidikan Studio Lukis Departemen Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Aktif berpameran terutama sejak 2016. Pameran terakhirnya di Universitas Maranatha, Bandung, bertajuk Artventura (2022).

 


Tidak ada komentar