Sajak-sajak Putu Fajar Arcana (Nusa Bali, 14 November 2021)

Matrioskha 

Dalam cuaca dingin di lapangan Kremlin,
Matrioskha menggigil. Lipatan-lipatan syal warna merah
yang melilit di lehernya seperti kaku. 

Inilah saatnya menyimpan anak-cucu sampai tujuh turunan
dalam kantung yang telah diwariskan berabad-abad.
Masa-masa di mana para Tsar kepincut Paris dan kemudian
membuat replika, membangun St Petersburg. 

Ini kota yang nyaman bagi para pelancong
Tetapi dingin bisa bikin beku dongeng
dalam gereja-gereja tua milik kaum Ortodoks. 

Seorang pemabuk di tepi sungai mengoceh
tentang turunan Rusia yang kini kacau oleh mesin Barat. 

“Matrioskha pasti kecewa menyaksikan kenyataan kini.
Rusia sungguh-sungguh mengecewakan dan aku
tidak perlu mabuk menunjuk kebobrokannya,” katanya.
Tubuhnya terhuyung dan tersungkur di trotoar di tepi sungai.
Ia menjulurkan tangannya pada sebuah tiang lampu,
sehingga tidak terjerembab ke dalam air yang deras. 

Matrioskha, memang hanya boneka kayu,
tetapi menyimpan rahasia anak-anak dalam perutnya

Dan itulah cara kaum sosialis
mengajarkan pentingnya menjaga komunisme!


Venezia, 1 

Dingin, dingin, dingin, katamu. Sore memang sedikit nakal. Ia bawakan aku segumpal awan, yang mengaduk gerimis jadi sebasah rambutmu Ahai, San Marco menggigil dalam cuaca musim panas yang berhujan Tapi coba kita menepi, siapa tahu ada selembar puisi yang tertinggal dalam hangat kafe di tepi Canal de Grande Cepat, cepat, cepat, katamu. Sore telah benar-benar tiada ditelan deras arus Kau tetap nyalakan mesin, dan perahu berlalu ke tepi-tepi malam yang basah oleh matamu


Vodka 

 Aku tahu sekarang mengapa Vlado, gelandangan yang aku temukan di Moskaw, selalu tersungkur di trotoar dengan sebotol vodka. Alkohol tak hanya membuatnya melupakan dirinya sebagai tunawisma, tetapi membantu melindungi tubuhnya dari sergapan cuaca bergerimis dengan suhu 9 derajat. Moskaw jadi bagai surga buatnya. Ia bisa tidur sekehendak hati, bahkan di sudut-sudut paling kumuh kota itu. Vlado tidak pernah merasa dibekap ketakutan lalu menyusup ke kamar berpenghangat. Ia merasa perlu menikmati privilese sebagaimana kini diumbar warga Moskaw. “Aku selalu percaya Tuhan itu Maha Pemurah!” katanya pagi itu. Cuaca Moskaw sedang anjlok ke titik 6 derajat. Matahari pun tak keras kepala untuk melawan kehendak langit. Sisa-sisa sosialisme seperti melekat pada mantel kucel dan topi bulu domba yang dikenakan Vlado. Dulu, katanya seolah mengigau, ia pernah bertempur di medan Afganistan untuk menegakkan Soviet yang sampai kini ia sunggi di kepalanya. Tetapi harapannya seolah dihancurkan dan dilindas kendaraan-kendaraan mewah kaum borjuis yang kini memadati jalan-jalan Moskaw. Moskaw boleh bergerak menjadi megapolitan paling ruwet, tetapi Vlado menyederhanakan segalanya dengan sebotol vodka. Sosialisme, pikirnya, sejatinya larut dalam kebersamaan sebotol vodka. Ini mirip plesetan paling populer di dunia hiburan, vodka connecting people! --Alkohol telah mempersatukan kembali kaum proletar untuk mengais sisa peradaban. Vlado percaya jalan alkohol akan mengantarkannya menuju cita-cita sosialisme: bersatu dalam kemiskinan! Vodka vodka vodka, kami mabuk bersama sepanjang pagi di jalan-jalan Moskaw… Kami tak mau bercerai karena kesombongan borjuasi!


Arsenale 

Kau benar-benar tak hadir saat pesta terlanjur dimulai. Di halaman yang sempit di sela tembok-tembok tua, bahkan di lorong itu, kita sempat berbincang tentang sejarah yang membeku dalam tali-temali. Sementara di kafe Sebagian kita masih menunggu hari yang berpusar di sekitar gambar-gambar kontemporer. Siang tak begitu panas saat kau rebah di tepi Canal de Grande serupa tarian camar angin memukul-mukul tepian. Dan tak ada yang menawarkan cinta. Cuma sederet gondola saling bentur. Muara di ruang ini sesak oleh artefak. Ada yang sedang terisak Lalu memecah botol-botol Menu yang sehat hari ini Tembakan video di tembok tua Seorang perempuan melahirkan Mungkin ia mengandung Rahasia seni hari ini.

Leluhur Menyantap Misoa 

Tangan-tangan leluhur yang menjulur seperti misoa, sulur-sulurnya melingkar membentuk garis nasibmu. Dalam bulatan telur berwarna merah ada pesan rahasia tentang asal-muasal Garis putih itu berlapis, tanpa putus, melingkar sebelum sampai ke inti waktu. Dan waktulah yang membuat kau dan aku kini terpisah ruang. Dalam lembaran surat-surat usang Konon kau bersemayam di atas altar Meluluh dalam butiran abu. Berabad-abad lalu seorang raja tua membangunkanmu, tepat pada akhir musim dingin. Sejak itu kita bercakap tentang usia yang datar Selalu terguncang di jalan berbatu dan terbatuk-batuk di peralihan waktu. Bahkan bisa putus sebelum tiba di pintu nirwana. Konon pula kaulah penghuni terakhir pada bulatan telur. Warna kuning itu pertanda kesukacitaan Kerelaan berkorban, memberi harapan dan janji kebahagiaan bagi anak cucu. Di depan altar ini doa-doa mengalir Dalam tarian asap hio kita bersama saling menyantap usia. Semangkuk misoa mungkin bisa memperpanjang kisah-kisah nenek moyang. Tangan-tangan leluhur yang menjulur seperti misoa, sulur-sulurnya melingkar sebagaimana karma selalu mempertemukan kita di sini atau pada dimensi hidup kita nanti


Profil Penyair

PUTU Fajar Arcana lahir di Negara, Jembrana. Dia menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Menulis beberapa buku, di antaranya: kumpulan cerpen Bunga Jepun (2002), Samsara (2005), Drupadi (2016). Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi Bilik Cahaya (1997), Manusia Gilimanuk (2012), dan Budak Naga (2020). Novelnya Gandamayu (2012) yang berangkat dari kisah Sudamala, dipentaskan oleh Teater Garasi. Pernah diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam perhelatan Mimbar Penyair Abad XXI tahun 2000. 

Selain menulis puisi, Fajar Arcana juga menulis monolog, cerpen, dan esai. Rutin menulis kolom kebudayaan dalam rubrik esai yang diberi nama ‘ePILOG’. Kolom yang diterbitkan setiap hari Rabu secara online di Kompas.id itu sebagian telah dibukukan dalam ePILOG, Esai Kebudayaan Kompas (2020). Sebagai jurnalis, dia telah meliput peristiwa-peristiwa besar, seperti Venice Biennale, Art Basel Hong Kong, Cannes Film Festival, dan Tokyo Film Festival. Bersama rombongan kesenian Indonesia melakukan perjalanan kebudayaan ke Iwate (Jepang), Paris (Prancis), Athena (Yunani), dan Moskow (Rusia). Pada tahun 2021, dia memperoleh anugerah Bali Jani Nugraha dari Pemerintah Provinsi Bali.

Kirimkan Karyamu ke Redaksi NusaBali

Redaksi NusaBali menerima kiriman naskah puisi dari masyarakat, untuk dipublikasikan setelah melalui proses seleksi. Naskah puisi bisa dikirimkan langsung ke Kantor Redaksi Harian Umum NusaBali, Jalan Hayam Wuruk 110 Denpasar, atau melalui email hariannusa@yahoo.com. Sertakan foto penulis puisi (penyair) dan CV ringkas penyair. 



Tidak ada komentar