Puisi-puisi Rahem (Koran Tempo, 14 November 2021)


SURAT TERAKHIR IBRAHIM LAM NGA

.

“T’lah kupatahkan dada yang gemetar, Teuku

Dalam keberanian yang runcing

Sebelum tangan-tangan ini menyentuh Glee Taron”

.

Maka atas keberanian ini, di Krueng Raba

Pada pertempuran yang kita kepung

Van Der Heijden membawa kita tenggelam

Ke gua kematian

.

Di layar kematian kita

Tuhan menciptakan dunia baru

.

Kita melayang dengan mata terpejam

Aku pergi, aku pergi!

Dengan seluruh mimpi yang terbenam di langit perang

.

Madura, 2021

.

.

.

PADA MALAM SIERRA

.

Apakah kau tahu, Roseanne

Pada repetisi malam itu

.

“pada malam sierra

Amadeus menjagamu dari tikaman mimpi buruk

Sepanjang waktu, sepanjang mimpi”

.

Ia memelukmu di lanskap tua itu

Dengan soneta sedih

Dengan fantasi yang kau pelihara

Ke lembah malam

.

“Jangan mendekat, jangan mendekat,” ucapmu

.

kau seakan-akan lahir

Dari bangsa jin yang berkepala batu

.

Madura, 2021

.

.

.

Rahem kelahiran Sumenep, 20 April 1999. Ia aktif di Komunitas Anak Sastra Pesantren (Asap) dan menjadi pendamping Sanggar Sareyang Miftahul Ulum. Beberapa puisinya terbit di koran dan antologi bersama.

  

Tidak ada komentar