Puisi Iin Farliani di Jawa Pos, 13 November 2021



Langit Petang Pinggir Dermaga

langit petang
hilang sinar
yang berhambur tinggal
kicau burung di belakang
kibasan kain milikmu
berwarna jingga
milikmu bernoda gincu
menerbangkan kepak yang diam
di matamu ia telah dijarah
kesedihan sewarna darah
apa yang diturunkan
dari warna langit yang luruh
menebalkan biru laut itu
meninggalkan untukmu kubangan buih ombak
tempat membasuh kabar buruk
yang datang bersama pahit ludah
dan dingin alkohol
tubuh tersadap
berbaring di atas pasir
keretak kayu dermaga
akan menggantikan bunyi tangis
menetaskan ribuan kali lebam
melepuh dengan hasrat para
pemakan bangkai
Sekotong, 2021

Memburu Kerang

daratan terbuka

sesudah laut susut

menghampar cahaya amber

menumpah

mencium

rundukan lamun

berbalut lumpur hitam

perempuan bercaping pandan

jari-jari kaki menghindari

duri-duri karang

mata sabit

mencongkel batu

menguak kerang

dari celah cagar

menikam

sewarna kuku

terpantul di jernih air

bunyi soda memukul

di kejauhan

denting es

menyala semalaman

hanya meraup apa yang mengibas

apa yang menembus ke dalam tanah

di separuh petang dalamnya

di rekahan daratan yang menjelma punggung

bagi hewan-hewan air

akhirnya, meramu makan malam

akhirnya bergelayut hari gugur

terpencil di atas loyang

mengasapkan

aroma kerang

Sekotong, 2021


Puzzle Pemandangan

dari balik kacamata

menemukanmu menjadi daun-daun lepas

segerak angin, bertepi ungu

dengan hasrat mendirikan

catatan dari bau tempat

setua air garam

kursi reyot, debu panas

warna biru dari filter buatan

biru yang beku di lautan

biru yang luruh pada saku jins

menebak umur dari lubang jaring

anak mutiara yang terkurung dalam poket

harum musk

kerajaan runtuh di kaki

tapak terbasuh getah

dan pemandangan merabun

mengemasi diri yang lumpuh

hukuman bagi sebuah sepi

Sekotong, 2021

IIN FARLIANI

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mataram. Menulis puisi, esai, dan cerita pendek. Pada 2020, ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writers MIWF 2020. Dalam waktu dekat, akan terbit buku puisi tunggalnya yang merangkum puisi periode 2013–2020.

Tidak ada komentar