Puisi Agus Wis di Suara Merdeka, 18 Juli 2021

 SETIAP KEMARAU KITA RINDUKAN HUJAN

.

Suatu yang tak terbayangkan telah terjadi. Hati yang saling mendengki, dendam, dan benci yang menginginkan bahaya menimpa pihak lain. Dan bukannya hati yang penuh kasih sayang berlimpah simpati.

Sayang sekali, kenyataan ini benar-benar terjadi dan kita temukan. Arti persaudaraan dengan hati bersih dari perasaan dengki terkadang hilang dari kita.

Sesungguhnyalah di dalam kehidupan yang penuh kesibukan ini, kita terkadang melupakan saudara kita. Sungguh ini sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.

Maka, mari bangkit bersama. Mulai melangkah selangkah demi selangkah, tuk tanamkan makna persaudaraan dalam hati kita. Dan tanyakan setiap saat, dengan apa kita isi hati ini? Bukankah setiap kemarau kan rindukan hujan tuk menyiraminya.

.

KAPAL LAYAR PUN MAMPU BERLABUH DI PADANG PASIR

.

Apakah keyakinan kita terhadap kekuasaan dan janji Allah masih saja lemah, ragu, dan kurang yakin?

Subhanallah..! Bahkan selembar daun kering pun Dia mengetahui di mana letak jatuhnya. Yakinlah seyakin Sang Musa berjalan di tengah laut.

Seyakin Sang Noah saat diperintahkan oleh Dia untuk membuat kapal di puncak gunung di tengah-tengah belantara padang pasir, tanpa bertanya apakah ini yang akan menyelamatkan kaumku?

Maka, jangan katakan bahwa kita tidak yakin adanya harapan perubahan. Itu janji Allah..! Maka mari bangkitlah tuk raih janji-Nya demi masyarakat yang damai makmur sentosa.

.

MEDAN PERTEMPURAN SESUNGGUHNYA

.

Sesungguhnyalah medan pertempuran kita adalah diri kita sendiri. Jika kita dapat mengalahkannya, maka kita akan lebih mampu dari yang lain. Pun sebaliknya, jika kita dikalahkan oleh jiwa kita sendiri, maka di hadapan mereka, kita akan lemah dan lemah.

Mari kita bergandeng tangan tuk berjanji bahwa kita akan mengubah keadaan agar kita menjadi lebih baik. Kita akan meneguhkan tekad dan sepakat akan melakukan perbaikan dan kewajiban kita terhadap masyarakat dengan segera.

Mari bangkitlah dan kumandangkan teriakkan slogan kita sekeras mungkin: Kita siap untuk melakukan perubahan, dengan segenap kesungguhan. Seperti kesungguhan Kanjeng Rosul mempertahankan agamanya.

.

JIWA NAN KEMILAU

.

Dalam kajian religi, semestinyalah kita harus senantiasa membersihkan jiwa kita dari berbagai penyakit, sehingga akan terlihat kemilau dan siap melahirkan amal perbuatan yang agung dan mulia.

Kemilau cahaya jiwa kita mestilah mampu menerangi kegelapan rumah dan lingkungan sekitar, syukur bisa menerangi gelapnya dunia hati segenap manusia.

Maka, tidak bisa tidak, jiwa harus all-out untuk tetap menjaga kesucian dengan menghindari godaan setan, jin, dan manusia.

.

BANGKITLAH UNTUK BAHU-MEMBAHU

.

Sungguh..! Kita tidak tahu apa yang menjadi penghalangnya. Bukankah masing-masing kita mendambakan kebahagiaan?

Jika Dia telah memberikan jaminan kebahagian di sini dan di sana, apalagi yang kita tunggu?

Sebenarnyalah kita juga sudah sangat sering mendengar hati yang berdegup kencang, yang menginginkan perubahan, namun masih sangat memerlukan dukungan untuk menuntunnya menuju pintu perbaikan.

Mari, kita bangkit bahu-membahu tuk mewujudkan masyarakat yang damai, hingga akhirnya membantu kita melupakan segenap kekacauan dan pandemi yang selama ini melingkupi kehidupan kita sehari-hari.

.

— Dr. Agus Wismanto yang lebih populer dengan nama Agus Wis adalah dosen PBSI UPGRIS. Masih anggota PWI sejak 1999 hingga sekarang. Juga Kominfo PGRI Jateng. Dia menyelesaikan pendidikan S3 di UNY dengan disertasi “Model Supercepat Menulis Berita”.

 


Tidak ada komentar