Sajak M. Hendry Agus Riyanto (Radar Mojokerto, 8 November 2020)






 

Titisan


/1/

Dari balik senyuman, getaran itu kian menguat, mengaitkan dua hati yang terbebas dan membebaskan dirinya dari penjara rindu, merindang dendang penebar sabar. Kian menyebar luas memenuhi segala yang bernama, bernyawa.

 

/2/

Satu pintanya kepada pemberi cinta, kuatkan jiwa, manakala perpisahan, menemui. Lekas sembuh radang yang menghadang, tertendang sesekali oleh mimpi yang tertambat dan menambatkan dirinya dalam satu ikatan kasih. Mengisahkan dua insan yang kasih mengasihi.

Banyumas, 12 Juli 2020


Pengabdi

Seorang datang dengan tangan menggenggam gendam. Meredami ajian pangeran negeri seberang. Salah satu mantranya meyakinkan, dengan  kain batik bercorak carukan kayu. Mengkhayalkan angan dari tiap lipatan kainnya. Kian melarung di atas lara. Terciptalah gendam pengabdi kasih , yang lelah, kalah dalam perundingan,  pertandingan  cintanya.

Banyumas, 4 Juli 2020


Perjalanan Seribu dua Cahaya

Di perjalanan menyusuri seribu dua cahaya,
kakiku berhenti membuat jejak,
Perjalanan itu masih jauh,
baru separuh aku mengembaranya

Mengakar kakiku di atas tanah,
dan bau keringat mewangi bersama perjuangan kemarin.
Aku pun, kembali mengeja ,
merapalkan ingatan pasal jejak, di jalur setapak penyemangat itu.
Usia telah melunturkan jejak, yang telah aku buat, tak terawat. 

Banyumas, 16 Juli 2020


Lamunan malam

Di antara bunyian lengkingan kereta.
mengeratkan tambatan penantian
bulan pun menawarkan senyuman, di balik lautan awan malam.
Melamunkan wanita di ujung pematang jalan.
Menyalakan gemerlap kisah kasih
makin menenggelamkannya
Pada bias terakhir sinar rerembulan
setengah  berucap, 

“ Wahai rembulan temanilah aku,
menjemput kekasih di tempat kaki; berpijak”

Malam kian berlari, pergi menjauh.
Kekasihnya belum mendekat, datang
membayar lunas rindunya.

Banyumas, 07 Juli 2020


Berita Pagi

Fajar menyingsing, membangunkan raga
yang terbuai dalam lautan mimpi semalam.
Kubuka  lembaran penantian panjang selama ini,
keyakinanku menderu, aku akan lolos. 

Pada belaian kali pertama,
namaku belum keluar ke daratan terpilih. 
Halaman kedua mulai berkisah,
terkejut aku dibuatnya, kalang kabut, kalap.
Aku masuk dalam daftar orang tetenggelam
dunia runtuh seketika di depan mataku.

Garis Tuhan penuh teka-teki,
Garis Tuhan penuh rahasia
Garis Tuhan memenuhi rahasia
Rahasia memenuhi garis Tuhan 

Hati manusia, jauh dari kata syukur
Syukur menjauh dari hati manusia
Jauh di hati manusia, syukur 

Kutenangankan hati ini,
untuk kembali kepadaNya
Hari ini,
nasihat itu tengah menjadikannya nasihat, dalam nasihatNya 

Banyumas, 05 Juli 2020

 

Biodata

M. Hendry Agus Riyanto, lahir di Banyumas, 08 Desember 1999. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Purwokerto. Bergiat aktif di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Pengurus Komunitas Kedai Frasa.  Karya puisinya pernah dimuat di Radar Mojokerto, majalah Simalaba, Harian BMR Fox dan antologi puisi bersama " Semua Menutup Pintu Untuk Duka Kota" Tahun 2020.

1 komentar