Puisi Yeni Purnama Sari ( Harian Haluan, 29 November 2020)

NYANYIAN OMBAK


Seperti senja yang sudah-sudah

saat dada tiada lagi mampu menanggung

getar gelisah

kita menepi ke pantai itu

engkau diam sebagai bayang-bayang

jatuh memanjang dari arah punggungku

menghadap

aku tubuh yang menuntunmu kemana pun

tungkai berderap

percakapan hanya siul angin pada lambai

nyiur

kita larut dalam nyanyian ombak yang tiada

henti mendebur

pada tebing-tebing curam di kepalamu

menyisakan desir riak pada hangat pasir di

dadaku

sesuatu yang halus menjalar di antara kita

menyerabut, berjalinan, saling hela

meniadakan jarak

pelan-pelan, bagai kita pahami makna

nyanyian ombak

lewat debar yang perlahan menjadi ritmis

mengiringi irama debur itu.


Padang, 21 Oktober 2020


RAHASIA


Ada yang bergejolak dalam diriku

yang tak mampu kukatakan padamu

sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh

sunyi

—juga puisi.


2020


PERJAMUAN SENJA


Tak ada ritual bersulang

denting gelas hanya geming

bersembunyi di balik gigil gelisah jemarimu

tak henti menghitung-hitung waktu

detik meranggas pada pertemuan yang

gegas

senja begitu tergesa memerahkan

cakrawala

sebelum malam menyerap segala warna

cahaya

bagai rona anggur memenuhi satu-satunya

gelas yang kita punya

sebelum teguk tandas sepenuh dahaga

kenapa engkau begitu menyukai senja?

tanyamu suatu kali

sebab senja adalah pintu menuju kesunyian

yang panjang!

jawabku dalam hati

kemudian senja lesap pada lorong sunyi

matamu yang menyimpan rindu

hati ini mabuk jauh sebelum manis anggur

kita teguk

kita kian berpaling dari kata

gelas kaca kehilangan denting sulangnya

pada tepi gelas itu jejak bibir kita saling

kecup

menuntaskan dahaga masing-masing.


Lareh Sago Halaban, 11 Februari 2020


MANTRA RINDU


Engkaukah yang menebar mantra rindu

pada lapang langit itu?

menjalarkan hangat kenangan pada debar

jantungku

ketika sunyi dinihari berpusa pada gelap

lorong kepala

menghela segenap ingatan

bagai hanya engkau mesti dituju

menetaskan bulir-bulir embun pada

sepasang mataku yang nanar

jatuh menyesap ke lembah paling hening

dalam diri

mencari celah mendekap dingin tanah pada

kepal paling merah

yang senantiasa bergetar tiap kali namamu

kusaru

bagai zikir padang ilalang mendesir dalam

dada

memekarkan kelopak seribu mawar dalam

tadah doa

yang harumnya mampu menjangkaumu

pada jarak yang tak dapat kuterka.


2020


MERAJUT WAKTU


Bagai gulungan wol jatuh terguling dari meja ibu

musim telah mengurai jarak begitu rentang

antara engkau dan diriku

ketika senja hanya menegaskan batas riuh

dan sunyi waktu

dan malam mengukur sejauh mana kita

mampu menyimpan rindu

pada bilik pengasingan ini

lupakan segala rutuk

pada jarak yang kian rentang terurai bagai

benang itu

dengan jemari yang tabah kita pintal

menjadi selimut rajut hangat

agar rindu ini tak lagi gigil

meski urung kita bertemu.


2020


SETAPAK SUNYI


Semenjak berjarak dengan sunyi

aku seperti kehilangan puisi

segala keributan ditampilkan televisi tiada henti

sudah lama aku tak ingin peduli

mengelak dari segala bentuk perdebatan tak

berkeruncingan

musim penuh muslihat

telah menumpulkan kata-kata

bibir-bibir letih berlatih agar mampu tersenyum

manis

pada nasib paling getir sekalipun

ingin rasanya aku pecahkan cermin di

hadapanku dengan tinju ini

sebab hanya memantulkan kepalsuan

aku hanya ingin berjalan pada setapak paling sunyi

beri aku ruang untuk berdua—dengan

bayanganku sendiri.


2020


YENI PURNAMA SARI

Lahir 22 Agustus di Kota Kopi Sungai Penuh, Jambi. Menamatkan jenjang S1 di UIN Imam Bonjol Padang. Semasa kuliah, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Suara Kampus dan Teater Imambonjol. Karyanya berupa cerpen dan puisi dimuat di berbagai media cetak maupun daring. Berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Dapat dijumpai di akun Facebook Yeni Purnama Sari dan IG: yeni_purnama.s

1 komentar