Puisi Pikiran Rakyat, 28 November 2020

Puisi Rifki Syarani Fachry


Ironin to


bulan terbelah. remuk di angin

jadi tepung di kering jalan

batu yang dilempar patung-patung ke tawang langit

tak mengenai apa pun yang sisa

hanya melengkung dan jatuh juga di sana

: arah yang tak terketahui ujungnya


Bulan separuh mengapung

separuh bulan tepung


aku adalah amsal sekedar

sisa gema tak terdengar malam

seperti kehilangan semuanya


separuh bulan tertutup

bulan separuhnya telanjang

bulan separuhnya mengapung

separuh bulan hilang


2019-2020


Memudar


dengarkan ini

ketika angin berhenti

langkah-langkah debu

orang-orang rapuh

ke belakang

bayanganmu


setelah berulangkali

merasa sendiri


lalu ketika udara

beku

tanya bayanganmu

hidup macam apa

yang akan ia pilih

jika muda dan terkikis

adalah masa depan


2020


Tak Ada Pelukan yang Pantas Kumiliki


sebelum tuhan membelah dada ini

menyimpan diri sendiri ke dalamnya

menjahit kembali dadaku tanpa bekas dan nyeri

sebelum itu, dosa di tubuhku mayat

aku telah menerima kutukan

menerima dosa seperti pelukan

bertahun-tahun merawat azab

melindungi diri dari pahala dan surga

aku kehilangan kesempatan untuk doa


tapi kini, tuhan bersama peluk

rebah kepala


2020


Inori


I

tuhan, sisakan satu

neraka untuk puisi-puisiku


II

tuhan, aku tak ingin melupakan apa pun

aku hanya ingin tak pernah ada


2019-2020


Rifki Syarani Fachry, penyaira dan perupa kelahiran Ciamis. Buku puisi pertamanya Hantu adalah Kenangan (Kentja Press 2018). Kini sedang menempuh pendidikan Magister di Universitas Indonesia.*


Puisi Adhimas Prasetyo


Perihal Pulang


gelap datang untuk kesekian kali.

ia selalu suka merebah pada pangkuanmu

ketika kau mengaso di teras.


adakah pangkuan itu masih sehangat seperti

dahulu.


sementara di teras, masih di teras yang sama,

sepotong muka pintu telah lupa akan bunyi ketukan.

lagipula, telah berapa lama kau biarkan pintu itu

tak lagi terkunci.


gelap telah datang pada Mei kesekian.


sedangkan selama ini kau selalu keliru

membedakan makna antara kesetiaan

dan keputus-asaan.


2019


Perihal Kekalahan


beginilah adanya, kini sajak ini tinggal

kata-kata ripuh dan rapuh dengan makna

yang tak lagi utuh.


ketika kau membaca, kau hanya dengar

suaramu meracau tentang huruf-huruf

yang bukan apa-apa.


sajak ini begitu iri kepada sajak-sajak lain,

kepada sajak yang mengetahui

apa yang sedang diperjuangkannya.


jauh di luar sajak, seorang penyair kekal

dalam kekalahannya sendiri.


tak ada satu pun kabar baik dalam sajak ini,

kecuali kau bisa melupakannya sesegera mungkin.


2019


Membaca Senyum Koyuki


aku ingin menjadi tua

dan mati dengan mengubur

sebuah mimpi.


aku ingin menjadi derita

yang tersimpan rapi

dalam almari sunyi.


aku ingin bereinkarnasi

menjadi sepotong pagi

yang mengecup keningmu setiap hari.


aku ingin menjadi surga

bagi kealpaan semua orang.


aku ingin menjadi segaris bibir

yang selalu bisa membohongi

diri sendiri.


2019


Adhimas Prasetyo, penulis. Karya-karyanya telah dimuat di beberapa media lokal dan nasional, baik cetak maupun daring. Saat ini bergiat di Buruan.co. Buku puisi pertamanya adalah Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (Penerbit Buruan, 2020).

Tidak ada komentar