Puisi Indra Junaidi (Koran Merapi, 27 November 2020)

 

Jauh di Mata

 

Kisah memang sehimpun kata
terkesan tak rembang di perbukitan desa
tak sempat membuat matahari terlekas tersenyum
semua telah menjadi buih kata-kata.

Bila masih ada waktu memberikan kesempatan yang ada
izinkan aku tetap di sini
menikmati rindu
sebab rumah telah memberikan kesempatan untuk pernah nyaman
jika waktu tetap berputar pada legaran rindu
aku ingin ranah nan jauh di mata
datang membawa yang dulu pernah terasa
sampai semua bisa terlunasi
termasuk rindu yang sudah tak tertahankan lagi.

 Pariaman, April 2020.

 


 Saling Berkhianat

 

Dengarkanlah wahai kabut di perbukitan desa

aku pernah menjamu di saban subuh

berpacu dengan surya menuju gerbang kota

namun kini tak perlu rasanya untuk itu

kesungguhan ini memang adanya

sebab kota lebih terasa dekat kali ini

sebab para penguasalah yang menjarah semua ini.

 

Rindu ini memang tak semudah yang dirasakan

dulu di rumah terasa pulang pada pangkuan

penyempurnaan dari tepian yang ternyaman

namun kini waktu saling berkhianat

sejarah dan kini saling mengatakan cerai

sementara hakim tak mampu melerai

hingga langit menurunkan butiran derai

dan ada yang semakin menuai.

 

Pariaman, April 2020.

 


 

Menjadi Utuh

 

Jangan pernah berubah yang namanya halaman

mencobalah tetap seperti dulu

perbukitan dan aroma desa yang harum

dan tepian masih menantikan ranah rantau

anak-anak yang entah mengingat rumah dan halaman

sangat tak terelakan rindu ini tumbuh

dan biarkan di sini aku menjadi utuh.

 

Sekarang waktu mulai tersadar

rindu yang dinanti tak pernah kunjung datang

sementara halaman mulai jadi bayang

apalah artinya di sini kau pulang

sebab ranah tak lagi sama

semua telah menderu pada mesin perkotaan

rantau dan ranah adalah satu halaman

tidak ada lagi ruang batas antaranya.

 

Pariaman, April 2020.

 


 

Berputar

 

Jika perbukitan tak sama

namun tetap saja ada yang membuat bahagia

ada ngiang nan tak terkira

namun, kata entah kini ada di mana?

apakah semua baik-baik saja

apakah di ranah sana telah menjadi rumah bagimu

hingga perbukitan tak mencatat kepulangan

seperti lupa, sementara di sini rindu sudah mengepul

 

Hampa terasa waktu yang bergulir

perbukitan desa yang mulai lengang

dan rumah yang sekedar mencari waktu jadi legaran

membuatnya selalu berputar-putar pada peristiwa yang sama.

 

Pariaman, April 2020.

 


 

 

Jantung yang Berdebar

 

Apakah sampai di sini perjuangan kita?

inikah alam telah membaginya

maaf jika aku kadang merindukanmu di dekat jendela tua ini

rumah yang telah lapuk oleh lembar waktu

beranda rumah yang sudah tak wewangian pada kebahagian itu

membayangkan betapa kejamnya perasaan sendu.

 

Detak jantung yang berdebar dalam iringan waktu

semua mungkin benar adanya

bahwa di sini tak ada yang mengenal kata abadi

dan semua telah memudar di perbukitan desa dan rumah

tapi tidak dengan rindu

yang selalu seperti itu

semua tak lagi abadi, kecuali cinta di kalbu.

 

Pariaman, April 2020.

 


 

Membuih di Perbukitan

 

Masa yang akan datang

semoga tidak melupakan sejarah

bahwa ada bahagia dan duka yang terjarah

tentang orang-orang yang menapaki perbukitan desa

menuju gerbang kota yang bagaikan singgah sana

dengan membawa bakul sebagai mahkota

dan sayur yang menjelma pengharapan di hari esok.

 

Kuceritakan semuanya kepada segala yang ada

tentang aku yang membuih di perbukitan desa

wanita tua yang mendaki perbukitan setiap pagi adalah juang bersama mereka

mata air kini ialah peluh dan air mata

semua mengungkap rasa

menggali makna perih dalam kehidupan asa

namun nyatanya semua tidak adil

kita dipasung karena kekuasaan mereka.

 

Pariaman, April 2020.

 


 

Diam dan Membisu

 

Aku mencoba menggali artian dalam diri

semua yang belum disuguhkan mereka

namun kepada-Nya juga aku tetap menanggung setia di sini

matahari yang tak lagi sama

yang terbias oleh etalase gedung-gedung kota

sejarah telah mengalir ke muara lupa

lalu orang-orang hanya diam dan membisu

sebab keadilan tidak jua berujung temu.

 

Waktuku seakan berhenti mengejar

menceritakan seorang wanita yang tanggung oleh waktu

menitip rindu sendiri yang tumbuh secara mandiri

cinta barangkali tidak pernah tumbuh dengan yatim

namun rindu bertunas sendiri di halaman ini.

 

Pariaman, April 2020.

 

 


 

Mengintip Masa Depan

 

Mungkin kepulangan tidak bisa diharapkan

semua telah pergi tak kenal kata kembali

seperti serpihan bunga dandelion yang tak lagi pulangkan ranah pada sama

biarkan angin menghembus

sementara rindu semakin terbungkus.

 

Maaf, apakah boleh aku mengintip masa depan

hanya ingin tahu apakah akan ada kepulangan

agar penantian tidak bermuara kepada kehampaan

saat-saat terasa pekat

sebab rindu yang tersirat

dan kabar yang berlum tersurat.

 

Ohh aku rindu

yang semua tentang lalu

menyetubuhi aku dengan racun yang mengandung kamu         

lalu ke mana aku cari untuk melunasi rindu ini?

 

Pariaman, April 2020.

 


 

Melamunkan Kalbu

 

Dalam rindu apakah ada aku?

seorang ibu yang tak pernah bertemu rindu

seberkas angan-angan yang melamunkan kalbu

di jendela tua, dan di secangkir kopi tanpa gula

apakah ada cinta yang terasa?

 

Perkotaan telah menerangi? katanya

perkotaan sudah datang mendekat, dan memberi harap, katanya

katanya, semua telah tersinari dengan kebahagiaan

di sisi lain yang hanya dilihat dengan kaca mata perasaan

ada luka-luka para buruh yang menggantungkan kehidupan di perbukitan desa

segalanya tak terbaca, sampai jam dinding itu berdetak setiap saat.

 

Pariaman, April 2020.

 


 

Pembias

 

Dengarlah ngiang kabut di perbukitan itu

akulah hati yang lebam dalam menanti kepulangan seorang anak

deretan foto menjadi pembias tangis

betapa kejamnya rindu, kau sesakkan dada ini

sementera ranah semakin lengang

termasuk kepedulian.

 

Tiba-tiba perasaan makin lebam

sebab rindu yang semakin sekam

ranah yang semakin berbeda

jangan tanya lagi semuanya

sebab aku hanya butuh rindunya.

 

Pariaman, April 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 Profil Penulis

Indra Junaidi, lahir di Pariaman pada tanggal 01 Juni 1998. Ia adalah Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) yang tergabung dalam organisasi Unit Kegiatan Kesenian (UKKes) UNP bidang sastra. Beberapa kali menjuarai lomba kepenulisan sastra dan ilmiah, salah satunya pada tahun 2017 karya puisinya meraih juara satu dalam lomba cipta puisi yang diadakan di Malang oleh komunitas Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN). Karya-karya sastranya pernah diterbitkan di berbagai media massa nasional dan regional yaitu Koran Utusan Borneo (Sabah, Malaysia), Padang Ekspres, Haluan, Radar Madura, Malang Post, Medan Pos, Riau Pos, Minggu Pagi, Merapi dan lain-lain. Buku yang sudah terbit: Arloji Hujan (2019), Sabda Langkah! (2020).

Tidak ada komentar