Mereka Hendak Membunuhku (Minggu Pagi, 22 November 2020)


HUJAN masih meradang dan batang kakiku terus berlari. Reranting menghalangi mataku. Bonggol kayu membuatku mesti melompat tiap saat. Dan, kadang kala menjegalku hingga berguling-guling mencium rupa tanah. Aku juga berhadapan dengan putri malu yang gemar menyayat telapak kakiku. Meski begitu, aku harus tetap berlari bila tidak ingin dibunuh oleh sebelas orang berjubah hitam yang sebagian membawa sebilah samurai.

Seandainya saja sore itu aku tidak ketahuan, pastilah kejadiannya tidak akan seperti ini. Hal yang kusesalkan adalah aku batal menemani Sulhaini berbelanja kalung emas. Padahal, ia memimpikan memilikinya berbulan-bulan lampau. Oleh sebab itu, aku merasa gagal menjadi suami yang baik dan rumah tanggaku dengannya terancam.

Malam kian pekat dan aku masih terus berlari. Hujan turun kian deras. Kesiur dedaun terdengar bising. Di depanku terdapat sebatang pohon raksasa. Lekas-lekas, aku mendekat, lalu bersembunyi di balik pohon itu. Rerimbun belukar kurasa cukup lebat untuk menutupi seluruh anggota tubuhku. Meski harus menahan dingin, siapa peduli? Paling tidak, sebelas orang yang hendak membunuhku itu berhasil kukelabuhi. Kemudian, aku dapat mengendap-endap berbalik arah, menuju rumah. Dan, mulai memikirkan bagaimana caranya menebus janji membelikan kalung buat Sulhaini.

***

Agama baru mulai populer di kampungku sejak seorang kakek—yang entah datang dari mana—mengaku memiliki sebatang pohon raksasa yang dapat mengabulkan seluruh permintaan. Mulanya, orang-orang tidak peduli. Justru, menganggap kakek berjubah hitam itu menganut aliran sesat. Tidak sedikit dari mereka yang bermaksud membunuhnya. Itu dipikirkan ketika gagal mengusirnya. Namun, satu per satu penduduk mulai terhasut oleh keinginan dalam sebatang pohon itu.

“Kemiskinan yang menderamu bakal lenyap ketika kaumenyembah pohon ini,” hasut Kakek pada Mulkhan, salah seorang penduduk kampung. “Cobalah! Dan, jangan salahkan aku bila kau mati konyol karena kelaparan.”

“Tetapi, agama melarangku berbuat sirik.”

“Agamamu hanya memberimu kesia-siaan belaka. Sungguh, agama apa yang dapat mengabulkan sejibun keinginan?” balas Kakek itu.

Aku mendegar percakapan mereka dari balik pohon jati ketika bermaksud mencari kayu di hutan. Mulkhan tampak gamang. Sepasang matanya menjurus ke pohon raksasa yang dibalut oleh beberapa potongan kain. Kain-kain warna merah, putih, dan hitam. Di antara kain-kain itu, tertulis selarik aksara yang tidak kupahami maknanya. Barangkai, sebagai penyucian. Atau, entahlah apa itu.

“Apa benar bahwa sebatang pohon ini dapat mengabulkan permintaan?”

Kakek berjubah hitam menepuk bahu Mulkhan. Matanya menatap lekat pada mata lelaki pencari kayu bakar itu. Bibir Kakek tersenyum, membentuk sabit.

“Berdoalah! Ucapkan permintaanmu dan bila perlu, akan kutulis permintaanmu pada sebentang kain putih itu,” jawab Si Kakek, menunjuk ke arah kain paling lebar.

Dengan gemetar, Mulkhan melaksanakan perintah Kakek tanpa nama tersebut.

***

Konon, seminggu setelah kejadian tersebut, Mulkhan mengaku kaya raya. Ia bahkan membeli sepetak sawah milik Harun. Juga mulai membangun kandang kambing. Empat ekor ia beli dari peternak di kampung seberang. Motornya juga baru dan istrinya merias seluruh tubuhnya pakai emas dan perak. Dan, setelah mengakuan itu diutarakan Mulkhan pada kawan-kawannya, mulailah satu per satu penduduk kampung pindah agama.

Sejujurnya, aku mulai berang lantaran sebagian penduduk terhasut oleh tipu daya iblis. Bagiku, itu merupakan perbuatan sirik. Ah, tidak lagi sirik. Mereka terang-terangan mengaku pindah agama dan membaptis sebagai penyembah pohon. Sebagian dari mereka bahkan membujukku dengan iming-imingan kekayaan.

“Apabila kaumengikuti ajaran kami, istrimu tidak akan lagi merajuk minta dibelikan kalung,” ucap Mulkhan padaku di malam yang dingin.

“Tapi, agamaku tidak membenarkan hal itu,” sanggahku.

“Persetan dengan agama yang kauanut. Asal kau tahu saja bahwa agama yang dulu kuanut tidak memberiku apa-apa. Ah, keyakinan macam apa itu?”

Aku bungkam. Kata-kata yang hendak kukeluarkan seperti kembali tertelan. Tidak dapat kubayangkan, seandainya seluruh penduduk kampung beralih menyembah pohon. Pasti Tuhan akan murka dan bencana maha besar siap melanda kampung ini. Untuk itu, sesuatu terbesit di kepalaku. Biar bagaimanapun, aku merasa harus menebang pohon itu. Dan, bila perlu, sekalian kubunuh Kakek berlagak nabi itu. Aku membayangkan hidup di zaman Jahiliyah dan perintah jihad seketika muncul dalam tempurungku.

***

Sulhaini kembali merajuk, minta dibelikan kalung ketika penjualan kayu bakarku tengah menurun. Mulkhan berkali-kali menawariku ikut ke jalannya yang sudah jelas-jelas kuyakini sesat itu. Hampir saja aku hanyut, termakan hasutannya ketika istriku pergi dari rumah dan belum kembali selama tiga hari. Apakah ia kawin lagi?

“Tentu saja Sulhaini muak denganmu dan barangkali ia sedang cari lelaki lain,” ucap Harun padaku yang tanpa sengaja kutemui di hutan. Mulkhan berada di sebelahnya dengan mengenakan jubah hitam. “Kusarankan supaya kau ikuti bersama kami.”

“Tapi, agamaku tidak membenarkan hal itu.”

Tanpa kuduga, tiba-tiba Mulkhan mendorong tubuhku sekuat-kuatnya, hingga aku tertumus di atas rerumput dan semak belukar.

“Hei, kau Jangan sok suci! Kita tinggal di pelosok dan persetan dengan agama yang kauanut. Apakah Tuhanmu memberimu makan? Apa Tuhanmu sudi mencegah kepergian Sulhaini darimu? Kita hidup di kampung dekat hutan yang jaraknya ke kota berkilo-kilo meter. Semestinya, kau mau menerima keadaan ini, lalu memutuskan bergabung bersama kami. Bukankah itu lebih mudah?” geram Mulkhan.

“Seratus penduduk kampung telah pindah agama. Mereka memuja dan menyucikan pohon agung. Hanya kau seorang dan beberapa penduduk yang jauh dari pemukiman ini yang enggah beralih keyakinan,” imbuh Harun, menguatkan pendapat Mulkhan.

“Apakah sebatang pohon itu dapat berbicara pada kalian?”

“Apakah Tuhanmu sudi mendengar rintihanmu?” celetuk Harun.

“Aku percaya bahwa Kakek itu merupakan seorang Nabi. Ia tidak melarang kami meneguk tuak dan menyetubuhi seorang janda,” sahut Mulkhan, masih dengan nada tinggi. “Kami memimpikan kebebasan. Aku dan Harun tidak menyukai larangan dalam bentuk apa pun. Kemiskinan sudah cukup memasung kami.”

“Persetan dengan agama yang kauanut!” tandas Harun.

“Agamaku turun lebih dulu dari keyakinanmu,” belaku, menunjuk dua orang yang kuanggap sinting itu.

“Bahkan, usia pohon ini jauh lebih tua darimu,” sambung Mulkhan.

Aku sakit hati dengan perlakuan mereka padaku. Caci maki mereka padaku dan juga pada agamaku, ditambah pula kepergian Sulhaini yang entah ke mana, sukses membuat api dalam dadaku menyala. Kupikir, tiada cara yang ampuh untuk menyadarkan mereka, selain menebang pohon iblis itu dan membunuh Kakek yang mengaku Nabi.

***

Pada malam yang kurencanakan, aku mengendap-endap menuju hutan. Gumpalan awan tampak tebal dan gelap. Semenit berlalu, hujan akhirnya turun membasuh cemas wajahku. Sebilah kapak tajam bergetar. Peluh yang keluar dari lorong kulitku terbias hujan. Jarakku dengan pohon raksasa tinggal sehasta. Seorang lelaki paruh baya kudapati sedang bersila di bawahnya. Mungkin, sedang bertapa. Atau, entahlah.

Kupikir, hanya ada aku dan iblis berwujud kakek itu di sini. Maka, disertai gemetar di tangan, kuayunkan sebilah kapak itu tepat ke leher nabi gadungan. Kapak itu membuat kepala Kakek terpelanting dan berguling-guling di tanah. Darah segar mengucur di lehernya dan seketika tubuhnya ambruk.

“Katakanlah, apa yang dapat dilakukan oleh sebatang pohon itu ketika melihatmu sekarat,” sahutku, pongah dan berkacak pinggang.

Akan tetapi, dugaanku bahwa di hutan ini hanya ada aku dan Kakek yang telah mampus itu keliru. Gerombolan orang meneriakiku disertai hujatan kemurkaan. Sebelas orang berjubah hitam muncul dari balik semak belukar. Mereka mengambil batu, dahan, dan sebagian menggenggam samurai. Dan, tanpa berpikir panjang, aku berlari dan mereka mengejarku. Dalam situasi seperti ini, aku berdoa. Semoga, Tuhan yang kuyakini sebenar-benarnya Tuhan itu, sudi menolongku.

Di saat aku berlari mengitari hutan dan kembali bersembunyi di balik pohon, tiba-tiba pohon itu tumbang dan setelahnya, aku tidak tahu apa yang terjadi. ***

 

/Madiun, 2019

 

(*) Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Madiun.

Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo.

Heliofilia adalah buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.



 


Tidak ada komentar