Cerpen Romi Afriadi | Ayam-ayam Proyek (Tanjungpinang Pos, 28 November 2020)

AKU masih sangat kecil sekali saat pertama kali menginjakkan kaki di kandang ini. Diturunkan dari truk besar untuk selanjutnya dipaksa berukuran beberapa meter. Setiap hari aku disuguhi makanan dan minuman, di manja, diberi fasilitas mewah, lalu sebulan berselang, aku kembali dijejerkan dalam truk untuk selanjutnya dibawa ke kota.

Aku dan juga kawan-kawanku serempak menyebut, masa 30 hari itu sebagai masa tamasya, masa bersenang-senang sebab dilayani bak anak raja. Namun setelah tiba masanya, saat tubuhku mulai membesar dan memberat, aku harus bersiap mengganti dan memaknai masa itu menjadi masa kematian, lalu merenungi hidup yang hanya tumpang lewat sebentar saja di dunia ini.

Siklus perjalanan hidupku memang amat cepat dan menyedihkan, aku jadi komoditas dagangan yang diperebutkan kaum berduit. Aku dibiarkan hidup untuk menyenangkan perut manusia-manusia agar terpenuhi kebutuhannya. Barangkali begitulah Tuhan menjadikan aku sebagai makhluk berguna. 

“Baru empat hari, tapi sayap anak-anak ayam ini telah tumbuh, Pak Haji.” 

Dua orang laki-laki berjalan beriringan menuju kandang, satu memakai kopiah haji, baju koko dan sarung. Satu lagi memakai baju kaos biasa. Beberapa hari kemudian aku tahu, lelaki pertama si pemilik kandang, lelaki kedua seorang pekerja yang senantiasa mengurus kecukupan makan dan minum kami. 

“Itu pertanda baik, ya.” Lelaki yang dipanggil Pak Haji itu meneliti sambil meminta konfirmasi. 

“Betul, Pak Haji. Dibandingkan sebelumnya pertumbuhan ayam cukup cepat, jika terus begini tentu akan mengalami kenaikan berat saat panen.” Lelaki pekerja itu menjelaskan dengan semringah, berharap bisa menyenangkan tuannya. 

“Berapa banyak yang mati?” Pak Haji berkeliling, menyikapi setiap bentuk kandang. 

“Presentasi kematiannya juga rendah, Pak Haji. Dari 5.000 bibit anak ayam di hari pertama, hanya 13 ekor yang mati hingga hari ini.” Pak Haji kembali mengangguk, sesekali menunjuk sambi terus menanyakan keadaan kami di berbagai tempat. Rutinitas dan dialog yang nyaris seragam itu hampir terjadi setiap hari, pekerjanya selalu menjawab dan melaporkan kejadian yang terjadi. 

*** 

Malam pekat terhampar di sepanjang jalan, mobil berhenti di depan kandang yang siap menampungku. Kandang itu terbuat dari kayu, atapnya dari daun rumbia. Berbagai sisi ditutup dengan jaring dan terpal hitam agar tidak terkena sinar matahari. Sebab, sengatan matahari yang berlebihan akan membuat aku dan kawan-kawan mati. 

Lantai kandang itu dari bambu yang dibelah-belah, belahan bambu itu dirapatkan agar kakiku yang mungil tidak terjerumus menerobos lubang lantai. Di tengah-tengah kandang berderet puluhan tempat air minum dan makanan. 

Aku menghitung, setidaknya lima kali dalam sehari, para pekerja akan mengisi tempat tersebut, agar akudan kawan-kawan tidak kelaparan. Aku sangat dimanja, jadi jangan heran jika pertumbuhanku begitu lembek, pergerakanku tidak lincah, bahkan kedua sayap yang tumbuh nyaris tak pernah aku gunakan. Karena memang tak pernah digerakkan untuk melompat dan terbang. Duniaku hanya makan dan cepat besar. 

Suatu hari ada seekor ayam kampung yang mendekat ke kandang. Ayam itu melompati pagar, menghampiri kandang kami yang berisi kawan sebangsanya. 

“Hei.., ayam kota. Kasihan sekali hidup kalian terkungkung.” Ia memanggilku dan menyebut ayam kota, padahal aku tak tahu menahu tentang asalmuasal. 

Serentak aku memaki dan marah mendengar olok-olok seekor ayam kampung itu. “Kalian hanya jadi pemuas selera manusia kota, hidup untuk bisnis orang-orang kaya.” 

Ia terus mengolok-olok, sesekali ia memamerkan keahliannya berloncatan dan berkokok nyaring sekali. Jelas aku tak memiliki kemampuan untuk itu, aku sebetulnya sangat iri menyaksikannya. Aku memandang hidup seekor ayam itu begitu tenang dan bebas, ia bisa mengekspresikan hidupnya dengan ceria. 

“Meskipun terkurung, tapi kami dapat fasilitas mewah di sini, tidak susah mencari makanan.” Salah satu dari kawanku menyahut. 

Ayam itu malah semakin nyaring kokoknya, kian gencar mengolok-olok kami. 

“Kalian hanya dibodohi, dipelihara hanya untuk menunggu masa panen, hidup kalian sangat pendek, tak bermakna.” 

Aku geram mendengarnya, beruntunglah tak lama kemudian ayam kampung itu berlalu, setelah pekerja kandang menghalaunya. Jatah makan dan minum segera meluncur, tiap menit bahkan detik, aku memang hanya mendedikasikan hidup untuk makan. Saat makanan baru disebar, beberapa di antara kawanku memilih menepi, tak sanggup lagi mematuk pakan makanan. 

Mungkin karena terlalu sering makan itulah aku jadi bodoh, tapi dagingku selalu disantap orang-orang pintar di kota, para pejabat berduit. Aku jadi berpikiran, jangan-jangan pejabat itu akan ikutan bodoh karena terlalu sering menyantap dagingku. 

Aku pernah mendengar perbincangan lelaki yang dipanggil Pak Haji itu dalam sebuah obrolan entah dengan siapa. Ia tertawa lepas sambil terus meletakkan sebuah benda berukuran beberapa centi di telinganya. 

“Proyek ayam kali ini tidak main-main, Pak. Semua detail tentang perkembangan ayam saya pantau setiap hari. Tentu panen nanti akan semakin banyak.” Pak Haji begitu senang, terkekeh. Barangkali ia sudah memikirkan akan mendapat untung besar. 

“Setiap saat makanan selalu tercukupi, Pak. Saya selalu mengingatkan para pekerja untuk tidak pernah lupa perihal itu.” Pak Haji kembali menjawab, kegaduhan di kandang tak dihiraukannya. 

“Mudah-mudahan, Pak. Semoga bisnis ini menguntungkan kita semua.” 

Pak Haji menutup perbincangannya, lalu berteriak, memanggil pekerja untuk mengecek kondisi kandang. 

*** 

Dua puluh hari sudah terlalu, masa panen tinggal menunggu hari saja. Pak Haji kian senang, menikmati setiap progres yang makin menunjukkan perkembangan baik. Ia semakin membayangkan untung besar yang akan diterimanya. 

Dalam salah satu kesempatan, aku dengar Pak Haji sudah menghitung dan memperkirakan laba dan mempergunakan untuk kebutuhan liburan. Ia merencanakan mengajak anak istrinya liburan ke Singapura dan Malaysia, membeli motor baru. Lalu berniat memperluas kandang agar semakin banyak keuntungannya. 

“Mungkin di sebelah sana akan ditambah sebuah kandang lagi untuk masa berikutnya,” begitu kata Pak Haji yang kudengar. 

Selama dua puluh hari aku kian gempal dan bontot. Untuk berjalan saja aku hanya mampu beringsut pelan sekali. Aku memang layak dilabeli sekelompok ayam bodoh yang menunggu waktu penjagalan. 

Akulah ayam-ayam proyek. Segala hidup dan matinya sudah ditentukan, aku dibentuk sedemikian rupa, diberi kesenangan semu, lalu dibantai. Aku hidup dalam kungkungan dunia orang berduit. Si pemilik kandang, orang-orang perusahaan yang memasok persediaan bahan untuk masakan restoran dan kafe-kafe elite. Aku pun disantap manusia elite. Aku beredar di tempat terhormat, bukanlah sekelas ayam potong rendahan yang dijajakan di pinggir jalan, dan disalurkan kepada rumah makan kecil diantara gang sempit. 

Aku jelas punya kedudukan tinggi, karena aku ayam-ayam proyek. Maka, semua yang terlibat kecipratan bahagia ketika aku akan di panen. Seperti yang ditunjukkan Pak Haji barusan, tapi kebahagiaan itu berubah menjadi nestapa tiga hari kemudian. 

Siang yang panasnya memanggang berganti menjadi angin ribut sore harinya. Cuaca memang sering buruk akhir-akhir ini, dan sore itu sepertinya mencapai puncak. Atap-atap daun rumbia sebagian terlepas, angin itu amat dahsyat memorak-porandakan kandang. Jaring dan terpal terpelanting. Aku menjerit ketakutan, atap-atap daun rumbia dan kayu yang menyanggahnya sebagian jatuh menimpa tubuh-tubuh kawanku tanpa bisa menghindar. 

Aku secepat mungkin mencoba berlari ke pinggir, mencari tempat yang dirasa aman. Saat semuanya berlalu, banyak dari kawankawanku yang mati. Suasana dan kondisi kandang begitu semrawut. Atap dari daun rumbia itu berserakan,kayu yang jatuh lintang-pukang. Pun bangkai tubuh kawankawanku. 

*** 

“Lebih dari dua ribu ayam mati, perkiraan panen melimpah melesat jauh sekali.” Pak Haji hanya bisa bermenung mendengar itu, aku dengar ia kecewa karena impiannya mendapat keuntungan besar otomatis pupus. Rencananya untuk berlibur dan membeli motor baru terpaksa batal. 

“Kita bahkan tak balik modal,” urai Pak Haji tertunduk lemah. 

Saat truk bergerak membawaku ke kota, kulihat Pak Haji memandang dengan tatapan sayu. Aku pun serentak mengajak kawan-kawan mengucapkan salam perpisahan padanya. Aku berprasangka, mungkin Pak Haji berpikiran akan berhenti menjadi pebisnis ayam.***

ROMI AFRIADI, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau 26 November 1991. Tinggal di Desa Tanjung sebagai guru madrasah dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB.

Tidak ada komentar