Cerpen Edi Warsidi | Siapa Kamu, Nak (Pikiran Rakyat, 28 November 2020)

AKU bukannya tidak gembira atas kelahiranmu, Nak. Namun, aku ngeri melihatmu kelak. Aku sedih sebab kamu lahir bukan pada saat yang tepat. Kamu lahir saat pepohonan tidak lagi memberikan kesejukan lewat dedaunan. Saat air kali acapkali mengamuk dalam bah yang mengerikan. Saat bukit dan gunung tidak lagi menjadi tempat bersunyi diri mencari ilmu, tetapi menimbulkan petaka. Saat orang mesti memiliki keberanian luar biasa untuk mengatakan, ”tidak”.

TANGISMU itu, Nak ketika keluar dari rahim ibumu, kurasakan ada sesal yang dalam. Aku juga ikut menangis, tetapi bukan tangis bahagia, melainkan tangis karena kamu nanti akan menjadi orang tidak berdaya. Berjalan dalam gelap dan cahaya hati nurani tidak bisa menerangi. Bagaimana mungkin aku bisa tenang membayangkan kegelapanmu, Nak.

Engkau tidak akan sampai pada puncak. Tidak akan bisa. Seperti juga semua orang. Tidak bisa! Para lelaki sudah menjadi Begawan Wiswara dan Rahwana. Para wanita sudah menjadi Dewi Sukesi. Menyeramkan sekali, Nak! Semua itu sudah tampak pada garis-garis langit.

Sekali lagi aku tidak menolak kehadiranmu, Nak. Namun, bagaimana mungkin aku tega melihat kegelapan masa depanmu. Masa depan saat miliar lebih manusia di atas jagat akan saling mendorong. Aku yakin, kamu tidak akan mampu menahan dorongan atau cukup tenaga untuk ikut mendorong. Kamu akan seperti pelanduk, Nak. 

Maafkan aku ayahmu, Nak. Aku tidak akan mengajarimu apa-apa, termasuk juga sejarah. Sejarah akan membuatmu tambah linglung dan pikun. Karena sejarah yang sebenarnya tidak pernah tertulis. Ia ada, tetapi bukan untuk diajarkan. Yang biasa dibaca adalah tafsir dari berbagai fakta. Tafsir sesuai dengan kehendak yang menafsirkan, para penguasa itu. Karena murahan seperti ini tidak akan kuajarkan. 

Begitu pula politik, Nak. Akan kularang siapa pun yang mengajarimu ilmu yang satu ini. Politik bukan lagi ilmu tentang cara orang menguasai sesuatu dengan arif, melainkan ”menghabisi” para pihak yang berbeda. Nak, kamu tidak akan mendapatkan suasana bagaimana orang berbeda, tetapi masih bisa minum kopi dan tertawa bersama. 

Oleh sebab itu, Nak, kamu akan kuasingkan dari jagat manusia. Supaya kamu belajar dari alam saja. Biar kamu belajar sendiri tentang huruf-huruf dan membaca. Lautan dan gunung itu adalah huruf-huruf besar yang sudah lama tidak dibaca. Maka, bacalah semua itu, Nak meskipun dalam keganasannya. 

Nak, jangan sekali-kali kamu membaca semua huruf yang ada dalam buku-buku itu. Kamu akan menyesal dan semakin dendam pada para pengarangnya. Mereka merasa cukup menyimpan kebenaran hanya dalam buku, bukan dalam tindakan. Lalu untuk apa? Bukankah itu menyakitkan? 

Nak, kamu ini siapa? Aku tidak akan memberimu nama. Maafkan. Biarkan kamu menggali sendiri nama dalam alammu kelak. Namanya yang pas, cocok dengan tindakanmu. Aku tidak sanggup memberimu nama. Karena kamu nanti akan malu sendiri jika kuberi nama bagus, ternyata kamu nanti jadi bajingan. Pilihlah nama sesuka hatimu, Nak, kelak jika kamu besar. Kalaupun tidak, itu lebih baik sebab nama acapkali juga telah menjadi sumber bencana. 

** 

AKU melarang para perawat bayi memakaikan baju pada anakku yang baru lahir. Namun, mereka ngotot. Bahwa keputusan ini absurd. Menurut mereka, rumah sakit bersalin ini akan dicap buruk masyarakat dan akhirnya akan gulung tikar.

Para perawat mengadu pada atasannya, para dokter. Dokter mengadu ke atasannya lagi, direktur rumah sakit bersalin. Direktur itu merekomendasikan aku dibawa ke rumah sakit jiwa. Aku protes dan minta bertemu sang direktur, tetapi ditolak. 

Lalu, aku katakan kepada semua dokter di sana bahwa putusanku bulat. ”Putusan itu sepenuhnya hakku sebagai orangtuanya. Aku punya alasan agar anakku tidak harus seragam; pakai baju. Biarkan ia dengan kesuciannya; telanjang! Atau kalau mau, biarkan ia memilih baju yang cocok. Sementara itu, rumah sakit bersalin di seantero negeri menawarkan banyak warna pakaian bayi. Aku tidak mau dan anakku juga pasti tidak mau. Merdekakanlah aku untuk tidak memberi anakku baju. Biarlah ia tetap suci!” 

”Di mana sucinya? Anak Anda akan kedinginan, lalu sakit. Anak bayi ini belum mampu menahan dingin AC tanpa baju!” 

”Kalau begitu, matikan AC-nya!” kataku pendek. 

”Tidak mungkin! Semua orang di ruangan ini kepanasan.” 

”Siapa yang suruh membangun rumah sakit bersalin tanpa ventilasi. Lebih sehat mana dingin AC dengan udara alam?” kataku jengkel.

Aku merasa menang berdebat dengan mereka. Selama di rumah sakit itu, anakku tetap telanjang. Ia tampak sangat sehat dan lincah. Namun, setiap mendengar tangisnya, aku menjadi muram. 

** 

UCAPAN selamat atas kelahiran anakku, banjir di grup WA, juga rekan-rekan dan tetanggaku. Kado pakaian bayi melimpah-ruah, tetapi kubakari semua. Ada juga kolega yang mengado sejumlah boneka superhero, mainan, bahkan ada juga memberi kado tokoh wayang, seperti Arjuna. Pemberi kado tokoh Arjuna ini menyelipkan sebuah kertas bertuliskan, ”Semoga anakmu menjadi seperti tokoh Arjuna. Tokoh sempurna luar-dalam. Ganteng dan cerdas. Piawai bercinta dan mahir berperang.” 

Aku agak emosi pada pemberi kado tokoh wayang Arjuna. Bukankah Arjuna yang telah menyuruh Durna memotong jemari seorang pemanah tangguh yang datang dari rakyat jelata karena takut tersaingi? Bagaimana mungkin tokoh ’bajingan’ bisa menjadi anutan? 

Kuinjak tidak henti-henti tokoh wayang itu. Aku seperti sedang melampiaskan emosiku akan sifat curang Arjuna. Kubalas engkau, Arjuna, atas dosa-dosamu kepada pemuda jelata itu. ”Enggak aku ampuni kau. Engkau ini bukan ksatria, melainkan bajingan! Enggak akan kubiar kaucemari anakku,” teriakku penuh emosi. 

Kedua mertua kaget, tetapi istriku malah tersenyum. 

”Lihatlah seorang bapak yang terlampau bertanggung jawab pada anaknya. Ia mengharapkan anaknya tetap suci,” ucap istriku kepada ayah dan ibunya.

Ayah dan ibu mertuaku menangis. Aku dan istriku dianggap tidak waras lagi oleh mereka. ”Oh, anakku, dosa apa yang kuperbuat sehingga menjadi begini?” ucap ibu mertuaku. 

** 

ANAKKU, ada pilihan lain selain hutan untuk tempat tinggalmu. Anakku, coba pandanglah langit itu. Terbanglah ke sana, petiklah bulan itu dan genggamlah! Namun, janganlah petik mentari! Karena kau akan bernafsu memakannya. Dunia sudah malang sebab kotak Pandora. Terbanglah dengan fantasimu. Rasakan sejuknya tatkala melintasi langit pertama hingga langit ketujuh. Bicaralah dengan bahasa yang kauciptakan sendiri dengan bendabenda langit. 

Anakku terbang dengan keheningan; melintasi berbagai dataran serbahalus dan nir tepi. Itulah yang namanya kesemestaan. Rasakanlah. Tinggalah di sana untuk selamanya. Tinggalkan kami; ayah dan ibumu di jagat. Tidak mengapa. Cukup kami saja yang saling mendorong antarmiliaran manusia. Cukup kami saja yang menjadi pelanduk. Namun, anakku kembali. Ia tidak mau meninggalkan jagat ini. 

Baiklah kalau begitu, memang kamu lebih memilih hutan rimba.Nanti setelah kuat berjalan, kamu akan kutempatkan di sana. Untuk itu, tetap tidak akan kuajari bahasa. Kamu harus belajar bahasa sendiri untuk kepentinganmu nanti di alam bebas. Berpolahlah seperti Raja Sulaiman. Jadikanlah semua hutan rimba sahabatmu, tetapi janganlah berlaku aneh. Misalnya, mengenakan pakaian! 

Anakku menangis kencang. Para tetangga berkomentar bahwa anakku laki-laki banget. Badannya padat dan tangisnya kuat. 

”Sayang, bayi sesehat itu tidak diberi pakaian!” ucap seorang ibu berusaha memengaruhiku. 

Aku tidak peduli. Mereka baru bubar menjelang magrib. 

Malam hari saat dingin menusuk-nusuk, pintu rumah kubuka lebar. Masuklah bagian dari alam. Bersatulah denganku, istriku, dan anakku. Anakku yang tanpa selembar benang pun. Peluk ia dengan kasih sayangmu, angin malam, agar ia mengerti kehangatanmu. Hujan tiba-tiba menggemuruh. Lebat sekali. Angin kencang menjadikan bunyi hujan itu menjadi-jadi. Sebuah pohon beringin di taman tumbang. Nyaris menimpa rumah tetanggaku. 

Anakku tiba-tiba merasa ketenangan luar biasa. Bunyi hujan dan angin yang saling bertingkah itu seperti alunan musik jazz. Anakku menikmatinya. Ia seperti ingin menikmati lebih dekat. 

Tiba-tiba bayi merah itu aku bawa ke tengah lapang. Kubaringkan di sana di atas sebuah papan di bawah hujan dan angin. Bersatulah dengan musik itu. Nikmatilah! Air hujan tidak henti-hentinya memberondong tubuh anakku. Angin kencang itu seperti kesurupan terus menghantam tubuh anakku, tetapi anak ini tampak begitu damai. Ketika kuangkat, anak ini justru menangis kencang. Kuposisikan seperti semula. Ia khusyuk kembali. 

Itulah sebuah latihan awal untuk menghadapi hutan rimba kelak, anakku. 

Sebuah jagat yang untuk sementara agak jauh dari kebusukan manusia.

*** 

Edi Warsidi, lahir di Bandung 1972. Selain menulis buku, juga menulis esai, puisi, cerpen, catatan perjalanan, resensi buku, film, dan pertunjukan yang dimuat di sejumlah media daerah dan nasional. Sejumlah cerpennya dimuat dalam Perempuan Berbibir Kupu-kupu (Cerpen Pilihan Sanggar Seni Tirtasari Bandung, 2012), Interogasi (Cerpen Pilihan Oase Pustaka Surakarta, 2015), Tarian Hujan, Kenangan yang Terus Bersemi dan Satu Miliar Cinta (Rumah Kayu Publihing, Padang, 2015).*

Tidak ada komentar