Cerpen Bode Riswandi | Orang-orang Semoyang (Kompas, 9 Februari 2020)

 

Seratus tahun berlalu, cerita buyut dari kakekku ini terus hidup dalam ingatanku, kalau kesedihannya tidak akan terlunaskan oleh apa pun.

Oleh BODE RISWANDI


Karya Utin Rini

Seratus tahun berlalu, cerita buyut dari kakekku ini terus hidup dalam ingatanku, kalau kesedihannya tidak akan terlunaskan oleh apa pun.

Satu kampung terusir tanpa diberi hak untuk melakukan perlawanan sedikit pun. Mereka dipaksa pindah ke mana saja mereka mau, asal jangan mendiami tanah milik negara. Mereka tak paham soal tanah negara, yang pasti tanah yang mereka diami telah diwariskan para pendahulunya berpuluh-puluh keturunan. Sebab itulah mereka bersikukuh bahwa yang ditempati, murni milik mereka.

Pada satu malam yang sulit aku jelaskan bagaimana situasinya, bau gas menyengat keluar dari tanah. Dan ini bukan gas alam yang dikeluarkan bumi, namun serupa gas yang sengaja dibuat oleh tangan-tangan jahat untuk mengusir mereka. Satu siasat sadis yang dibungkus bencana alam. Hanya tujuh orang yang tersisa, lainnya mati di pagi harinya.

Lalu beberapa orang merekayasa beritanya, tanah itu harus dikosongkan karena mengandung gas bumi yang beracun, dan kubur segera mayat-mayat itu sedalam mungkin. Mereka yang tersisa diisukan terdampak gas beracun dan bisa menularkan penyakit baru kepada yang lain. Karantina jadi bahasa paling menyakitkan untuk menggantikan kata diasingkan.

Sempurna sudah konspirasi keji itu dilakukan, setelah tujuh orang yang tersisa diusir dan harus memilih tempat yang sama sekali tidak dihuni manusia-manusia lain. Hutan dengan hewan-hewan buas, tanpa ada satu pun jejak manusia pernah membuka jalur di sini, jadi satu-satunya tempat terbaik bagi mereka. Sebenarnya cara ini adalah upaya lain untuk melenyapkan mereka agar tangan-tangan kekuasaan dianggap bersih dari tragedi menyakitkan ini.

Bertahun-tahun mereka mendiami hutan ini, bertahan hidup dengan insting yang bekerja. Memakan apa saja yang bisa dimakan dan membuat hunian dari apa saja yang bisa membuat mereka merasa aman dari cengkeraman hewan buas, dan ganasnya cuaca. Hutan ini menjadi saksi bagaimana kehidupan baru manusia dimulai dari tujuh orang yang terusir ini. Dari tanah kelahiran yang diwarisinya seratus tahun yang berlalu.

Tujuh manusia di dalam belantara, jadi makhluk baru yang harus menciptakan cita-cita baru. Yang harus merawat kisah memilukan ini agar bisa diwariskan kepada penerusnya. Namun ini tak mungkin bisa terjadi, dua orang perempuan dan lima lelaki di hutan ini adalah satu keluarga yang bisa selamat dari tragedi itu. Sepasang tua suami istri yang tak lagi produktif, empat lelaki muda yang tak jauh selisih usianya, dan satu perempuan muda saudara sedarah sedaging.

Mereka saksi hidup bagaimana yang lainnya mati bersamaan pada hari itu. Dan orang-orang dengan tongkat kekuasaan, ringan saja mengusir mereka dari tanah kelahirannya. Kejadian ini tidak bisa mereka lupakan, dan tak mungkin dendam itu terbalaskan dalam waktu yang sangat singkat. Atas kemarahan inilah, mereka harus punya cara lain agar terlunaskan segala dendamnya.

Bermula dari sebuah keputusan yang tak masuk akal, tujuh orang yang tersisa harus menghasilkan banyak keturunan, dan kepada merekalah kelak kemarahan ini harus disampaikan. Namun, usulan ini tak ubahnya hiburan bagi seorang terpidana mati menjelang eksekusi. Kemustahilan yang besar bila mereka harus bersikukuh dengan keputusan ini. Satu keluarga, satu darah, satu genetika.

”Jika kalian mau, aku bersedia!” tak terdengar getar keraguan dari nada suara seorang perempuan kecil.

Segera keputusan tadi bertemu dengan rasionalitas. Apa-apa yang sebelumnya diperdebatkan, seketika mentah lagi. Mereka mencari posisi masing-masing sambil terus menimbang, mengapa begitu bodohnya gagasan sekonyol ini disampaikan di antara mereka.

”Lupakanlah!” ucap seseorang yang lebih tua dari mereka.

Sepasang suami istri yang tak lagi bisa berbuat apa, hanya mampu diam menyaksikan keempat anak lelakinya yang saban hari terus mencari jalan agar dendamnya terbalaskan, agar mereka atau generasi berikutnya bisa kembali merebut tanah leluhurnya. Dan jelita kecil pun ikut tumbuh dalam dendam yang sama. Beberapa detik sebelum dia terusir dari rumahnya, sesorot mata lelaki pongah yang begitu sangat gembira melihat kematian dan tujuh orang yang dipaksa pergi, terekam jelas olehnya.

Usia yang begitu muda tak cukup tenaga untuk sekadar mengepalkan tangan ke arahnya. Tapi cukup kuat memorinya merekam dengan baik kejadian di depan matanya, serta sekian wajah-wajah yang bergembira di atas kesedihan mereka. Dan di hutan ini, tidak akan cukup waktu untuk merumuskan satu siasat yang rasional. Pasrah dan saling merelakan jadi satu-satunya bentuk perlawanan.

Butuh waktu panjang pula untuk menerima semua itu. Walau di antara mereka sudah ada yang berani mengikhlaskan diri, namun di sisi lain, atas dasar ketakwajaran, keempat kakak kandungnya bersikeras dalam hatinya agar ini tidak boleh terjadi. Untuk dilema ini, perlu waktu yang sangat panjang bagi mereka menemukan kata sepakat. Rasionalitas seseorang akan diuji bukan dalam masa-masa tegang, namun dalam keadaan kepala dan hati penuh dendam kesumat.

”Saat ini, aku memang belum bisa. Tapi aku punya harapan dua tahun ke depan, aku sudah jadi perempuan dewasa. Aku masih bersedia. Anggap saja kita tidak terlahir dari rahim yang sama. Ini semua untuk mengambil kembali harga diri kita!” kembali ia menegaskan tawarannya.

”Hari mau gelap, Hasta, kau jaga adikmu. Aku dan Sutan akan cari kayu untuk perapian sekaligus cari sesuatu yang bisa kita makan malam ini.”

Dengan perbekalan seadanya mereka masuki tubuh hutan ini lebih dalam, memungut banyak kayu bakar dan apa pun yang dianggap aman untuk dimakan. Tak jarang perjalanan mereka sejenak terhenti untuk memastikan hewan buas itu melintas dan tak sampai mengendus bau tubuh manusia. Baru kalau situasi sudah terbilang aman, mereka putuskan melanjutkan perjalanan atau kembali pulang dengan apa yang mereka dapatkan seadanya.

Mereka banyak belajar dari pengalaman, hingga pada satu ketika saat bertemu dengan hewan buas apa pun di hutan ini, mereka sudah makin terlatih instingnya. Mereka bahkan sudah mampu mencium dari kejauhan aroma-aroma ancaman baginya. Jauh dari itu, mereka sudah terasah bagaimana melawannya bila tiba-tiba terpaksa harus bertemu dan berhadap-hadapan.

Hutan ini telah menyatu dalam alir darah dan denyut nadi mereka. Tubuh mereka makin asing dengan keringat kebun, sawah, dan ladang. Napas mereka telah berubah jadi napas belantara, mata yang awas dengan penciuman yang tajam. Namun ada yang tidak mungkin pupus dari jiwa mereka, benih-benih kesumat yang kian waktu makin mengakar.

Tahun depan, adik perempuan mereka genap balig. Sudah cukup lama mereka menetap di hutan ini. Sudah tahu betul di mana sumber air dan makanan disimpan hutan. Sudah tidak lagi butuh api untuk menempuh setiap lekuk-lekuk hutan. Mata mereka mengandung cahaya abadi yang akan memapah dengan terang setiap jejak yang akan dituju. Pohon-pohon besar yang tegap berdiri di sini adalah tiang-tiang rumah mereka, dan langit atapnya.

Kemasygulan kembali menimpa mereka genap di hari-hari usia adiknya menjadi seorang remaja-dewasa. Kedua orang tuanya meninggal dua hari berselang waktu. Ibunya meninggal lantaran demam tinggi, diikuti bapaknya dua hari kemudian karena asma juga paru-paru. Segera mereka menguburkannya berdampingan tak jauh dari tempat mereka menetap bertahun-tahun ini. Kelak, jika semua tempat sudah sesak oleh rumah dan bangunan-bangunan lainnya, dan hutan ini akan kena babat bagi perluasan permukiman, lalu ditemukan dua kuburan, atau tulang belulang, sudah dapat dipastikan itu milik orang tua mereka.

Tahun-tahun berikutnya mereka berlima yang menghidupkan hutan ini. Dan puluhan tahun bahkan ratusan tahun selanjutnya, merekalah yang kemudian dikenal sebagai nenek moyang, leluhur dari generasi pelanjutnya. Sepeninggal orang tuanya, hari-hari mereka lakoni seperti bagaimana biasanya. Berburu, mencari kayu bakar, obrolan malam hari di tengah pembakaran yang tidak mungkin mereka lewatkan.

Beberapa ekor ikan dan satu ekor anak rusa yang mereka santap malam itu. Dua porsi mereka pisahkan dalam pilahan kayu, lalu disimpan di samping makam orangtuanya. Mereka lakukan semua ini, agar komunikasi di antara mereka senantiasa terjaga dan terhubung.

Musim penghujan dan kemarau telah bergantian peran di hutan ini. Payudara si gadis sudah tampak mengembang. Sementara jauh di luar hutan ini, tak terbayang apa yang sudah terjadi. Tanah tempat mereka terusir, entah sudah bagaimana bentuknya sekarang. Bahkan jalan menuju ke sana, bisa saja telah menjadi asing bagi mereka. Tetapi sejauh-jauhnya tanah kelahiran ditinggal pergi, tentu ada satu hal yang pasti diingatnya, dan itu cukup mereka yang tahu.

”Jika kalian tidak mau mengikuti apa mauku, lalu apa artinya hidup ini. Lebih baik aku menyusul mereka!” matanya sambil tertuju pada kedua pusara. ”Tak usah kalian merasa berdosa. Aku yang minta. Tak bisa kulupakan begitu saja apa yang telah terjadi di depan mataku. Tubuh-tubuh yang mati, dan orang-orang yang sekuat tenaga menyelamatkan diri. Aku yang masih kecil dalam pangkuan ibu, memandang jelas bagaimana gelak tawa mereka puas melihat keluarga kita terusir. Aku akan sangat menyesali hidup bersama kalian, jika tak bisa menuntaskan dendam itu. Satu-satunya jalan, kalian mengamini apa pintaku,” lanjutnya.

Empat orang lelaki saling menatap gelisah. Sesuatu yang muskil bagi mereka lakukan. Namun jika harus kehilangan lagi adik bungsunya, jelas mereka tidak akan merasa tenang selama hidupnya. Sebuah pilihan yang sulit, ketika tidak ada jalan lain untuk membuka kesempatan baru.

”Tentu tidak harus kita putuskan malam ini!” ucap lelaki tertua.

Gadis itu keluar dari lingkaran, lalu masuk ke tempat tidurnya. Sampai kayu bakar hampir seluruhnya menjadi abu, empat lelaki terlibat percakapan alot malam itu, belum juga dapati keputusan. Sukar memang, menimbang antara batas kemanusiaan dan terbalaskannya dendam. Sementara waktu terus bergegas tanpa ampun memberi jeda kepada mereka untuk mendapatkan keputusan yang benar-benar bisa masuk akal.

Entah sebuah keputusan yang baik atau buruk, akhirnya mereka menyepakati satu keputusan, di mana mereka bergilir untuk dapat menghasilkan satu keturunan dari indung yang sama. Tak terpancar wajah bahagia di wajah mereka ketika keputusan ini diambil. Tapi di ruang lain, seorang gadis yang mencuri-curi dengar tersenyum tenang dan gembira. Segera ia bayangkan banyak keturunan, yang akan melanjutkan perlawanannya. Jika tidak sampai waktu ia dan keempat saudaranya turun tangan, setidaknya ada yang melanjutkan sejarah ini.

Tahun-tahun telah berganti. Daun-daun ranggas dan bersemi bertubi-tubi. Hutan yang sedianya punya satu atap rumah sederhana, kini puluhan atap melingkar dihuni keturunan-keturunan mereka. Melanjutkan tradisi leluhurnya, masing-masing keturunan dari empat lelaki dari indung yang sama, mereka saling kawin, dan melahirkan anak-anak baru. Hutan ini tak lagi sepi sekarang. Tak cukup satu ekor anak kijang lagi untuk percakapan di tengah pembakaran. Sementara buyut mereka yang renta, cukup terduduk di teras masing-masing. Kulit keriput, uban yang lebat, menghias tubuh lima bersaudara.

Bode Riswandi, Lahir di Tasikmalaya 6 November 1983. Kumpulan puisinya Mendaki Kantung Matamu (Ultimus, 2010), Mereka Terus Bergegas (Langgam Pustaka, 2019), dan kumpulan cerpen Istri Tanpa Clurit (Ultimus, 2012).

Utin Rini Anggraini, lahir di Pontianak pada 1976. Menamatkan pendidikan seni grafis di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, kini tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Mendapat sejumlah penghargaan, antara lain The 100 Philip Morris Indonesian Art Award (2002).

 

Tidak ada komentar